Tanamkan Nasionalisme pada Anak-Anak dengan Kreativitas

Beragam cara dapat dilakukan untuk ikut memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-71. Salah satunya seperti yang dilakukan Mema Wahyuningrum, warga Bendungan Kidul, Wates, Kulonprogo. Dia menciptakan pizza dan puding merah putih sebagai semangat untuk menanamkan rasa nasionalisme kepada anak-anak.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo
MENANAMKAN rasa nasionalisme kepada anak tidak perlu harus dengan cara yang rumit-rumit. Itulah alasan ibu rumah tangga yang satu ini untuk membuat pizza dan puding merah putih bertepatan dengan HUT RI ke-71, kemarin (17/8).

Makanan yang sangat digemari anak-anak itu sengaja dibuat semenarik mungkin. Namun tidak meninggalkan sentuhan merah putih seperti warna bendera Indonesia sebagai simbol nasionalisme. 
Di satu sisi, kreativitas ibu anak satu ini menunjukkan bahwa dia cukup pandai dalam membidik momen atau peluang mengembangkan usaha roti pizza-nya. Apa yang dilakukannya juga sah, apalagi upayanya membuat pizza dan puding merah putih untuk membantu menanamkan rasa nasionalisme kepeda generasi penerus bangsa melalui kreasi makanan.

“Saya punya tujuan dengan pizza dan puding merah putih ini anak-anak bisa lebih lekat dengan simbol dwi tungal (bendera Indonesia) sehingga nasionalisme dan patriotismenya terjaga ditengah gerusan globalisasi,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Mema, proses pembuatannya juga relatif mudah, bahan baku seperti tepung terigu, gula pasir, fermipan, mentega, sosis, jagung rebus, bakso, dan keju cukup mudah didapatkan di pasaran.

“Setiap hari saya memang memproduksi kue khas Italia (pizza) itu. Biasanya roti itu saya jual ke pasar-pasar tradisional di Kulonprogo. Saya pilih pizza dan puding karena anak-anak suka,” jelasnya, kemarin (17/8).

Dia menjelaskan, proses pembuatan pizza bisa dimulai dari mencampur tepung, gula pasir, mentega, fermipan secara merata. Kemudian diaduk selama kurang lebih 15 menit sehingga berubah menjadi adonan. Setelah menjadi adonan dipipihkan sampai tipis sebelum kemudian diletakkan di wadah alumunium.

“Baru kemudian diberi toping di atasnya, ada irisan bakso, sosis, jagung, keju kemudian dimasukkan ke dalam oven selama kurang lebih 30 menit,” jelasnya.

Dikatakan, pizza dan puding buatannya dijamin aman dan sehat, karena tidak menggunakan bahan pengawet atau pewarna makanan yang berbahaya bagi kesehatan. “Di hari biasa saya bikin pizza dan puding, saya jual mulai Rp 3.000 hingga Rp 30 ribu per buah. Nah, kali ini saya sengaja buat pizza dan puding yang bernuansa merah putih, anak-anak suka juga ternyata,” katanya.

Selain menjual produksi makanannya di pasa-pasar tradisional, dia juga mulai mengembangkan pasar melalui media online. Salah satu pembeli, Nur Indah Larasati mengungkapkan, roti pizza asal Itali ini menjadi khas Indonesia karena diberi warna merah putih, dan ini sangat menarik. Menurutnya, kreativitas ini sah-sah saja dilakukan, karena juga memiliki tujuan yang baik.

“Rasanya enak saya suka, harganya juga ekonomis, pas dikantong apalagi belinya ramai-ramai,” selorohnya. (ila/ong)