SLEMAN – Permohonan dispensasi pernikahan akibat hamil di luar nikah di Pengadilan Agama (PA) Sleman cenderung turun. Ini dilihat dari pengajuan dispensasi pernikahan yang masuk ke PA Sleman tahun ini.

Humas PA Sleman Marwoto memprediksi adanya penurunan dispensasi pernikahan, karena kehamilan di luar nikah. Prediksi itu berdasarkan kejadian permohonan dispensasi sampai pertengahan tahun ini.

“Kami baru tangani 57 perkara. Di mana 55 di antaranya dikabulkan,” kata Marwoto Rabu (17/8).

Selama tiga tahun terakhir, jumlah pengajuannya di atas 110 perkara. Rinciananya, tahun 2013 sebanyak 135 perkara, 2014 ada 115 perkara, dan 2015 sebanyak 132 perkara.

Ia menjelaskan, kehamilan anak-anak terjadi paling banyak dilakukan teman sebaya, teman sekelas, atau dengan kakak kelasnya. Beberapa kasus terjadi dengan orang yang lebih tua dari mereka.

Umumnya, dispensasi nikah diajukan saat usia kehamilan mencapai empat hingga tujuh bulan. Mirisnya, 60 persen perkara dispensasi nikah diajukan pelajar usia SMP. “Usianya sekitar 14-15 tahun,” jelasnya.

Kondisi tersebut terjadi selama tiga tahun terakhir dan sebaran kasus hampir merata di seluruh Sleman. “Kalau dulu didominasi anak-anak SMA, usia 16-18 tahun,” jelasnya.

Menurut Marwoto, selama ini yang terjdi, permohonan dispensasi pernikahan di bawah umur pada PA untuk menutupi rasa malu keluarga. Padahal, untuk menjalani jenjang pernikahan akan banyak lika-likunya. Anak yang masih di bawah umur harus siap menghadapi kehidupan yang baru.

“Jika tidak siap karena pernikahan sekedar menurup aib, akan banyak rumah tangga yang hancur karena suami isteri memilih bercerai dikemudian hari,” jelas Marwoto.

Ia mengimbau pada orang tua terutama keluarga, berperan aktif mendidik anak. Selain itu peran masyarakat menjaga situasi lingkungan cukup penting.

Hakim di PA Sleman ini menekankan kontrol sosial di masyarakat yang perlu ditingkatkan. Kejadian hamil di luar nikah, berasal dari curi-curi kesempatan.

“Saat rumah kosong, biasanya pasangan memanfaatkan untuk berbuat yang belum diperbolehkan,” katanya.(bhn/hes)