MUNGKID – Berbagai macam cara memperingati hari kemerdekaan ke-71 RI. Seperti yang dirayakan warga Punduh, Desa Sidoagung, Kecamatan Tempuran, Rabu (17/8).

Warga menggelar malam 17 Agustus dengan tirakatan dan menampilkan busana ala zaman dahulu.

Gagasan itu berupa malam tirakatan yang unik dan berbeda disbanding tempat lain. Kegiatan ini dikemas agar menarik warga dan mengikutinya. Acara tidak sekedar membaca tahlil dan berdoa bersama. Juga disajikan beberapa penampilan seni dari warga. Seperti lawak, paduan suara, baca puisi, uraian kisah perjuangan, dan ditutup pemutaran film perjuangan.

Warga duduk berkumpul menghadap panggung di jalan dusun tersebut. Area tirakatan dihias beberapa pos penjagaan tempo dulu. Beberapa instalasi seperti obor, dan beberapa seni dipasang di sekitar lokasi. Serta, beberapa amunisi senjata perang, alat pertanian, hingga sepeda dan motor antik dipajang.

Tampak juga beberapa pemuda berpakaian pejuang 45 berkumpul di pos-pos yang ada sambil menunggu giliran pentas.

“Semula gagasan muncul dari para pemuda. Selanjutnya kami melakukan musyawarah dengan warga,” kata Ketua Pemuda Punduh Mursalin, 27.

Perayaan 17 Agustus juga berbeda juga terlihat di bantaran Sungai Elo di Kabupaten Magelang. Upacara bendera dilakukan setelah peserta selesai berarung jeram di lokasi pemberhentian bantaran Sungai Elo. Upacara dilakukan peserta di atas 18 perahu.

Saat bendera akan dinaikkan, peserta melakukan hormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Upacara diakhiri mengucapkan pekik Merdeka sebanyak tiga kali.

Koordinator Kegiatan Rohadi mengatakan, selain memperingati HUT ke-71 RI, kegiatan ini juga sebagai bentuk nyata rasa cinta tanah air. Ide tersebut tercetus seminggu sebelumnya.

“Setelah kami tawarkan ke peserta, mereka antusias. Sekalian saja dirayakan diatas Sungai Elo sembari berarung jeram,” katanya.(ady/hes)