PADA dasarnya anak itu cerdas. Sehingga orang tua, lingkungan, maupun guru hendaknya mengerti bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar. Kuncinya, mampu mengajarkan kepada anak dengan cinta dan kasih sayang.

Demikian yang disampaikan Setyo Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto dalam materi Parents Ghatering kerja sama Jawa Pos Radar Jogja dengan Pemkab Gunungkidul di Gedung Olahraga (GOR) Siyono, Playen, kemarin (18/8).

“Menjewer dan membentak ketika tidak mau bersekolah misalnya, itu namanya kekerasan terhadap anak. Pendidikan usia dini yang sebenarnya adalah dimulai dari keluarga yakni, bagaimana orang tua mengemong dengan cinta dan kasih sayang,” kata Kak Seto.

Di luar sana, kata Kak Seto, anak-anak diperlakukan seperti robot. Harus begitu, harus begini dan harus menaati apa yang diperintahkan. Tidak cukup sampai di situ, anak membawa tas ransel bawa koper dan begitu pulang masih banyak PR.

“Akhirnya si anak teler dan beranggapan sekolah seperti penjara. Untuk diketahui, bermain adalah hak anak. Saat mereka belajar harus dalam nuansa bermain,” ujar Anggota International Society for Twins Studies ini.

Sehingga, orang tua maupun guru ketika menempa anak juga paham terhadap kecerdasan yang dimiliki anak. Misalnya, anak-anak jangan sampai dipaksa untuk menggambar tertentu, karena itu dapat merampas kreativitas mereka.

“Biarkan saja anak menggambar sesuai kemampuan dan arahkan. Biarkan anak coret-coret, berkreativitas sesuai kemampuan,” tandasnya.

Kenapa membangun kreativitas itu penting? Menurut Kak Seto, kecerdasan IQ bukan segala-galanya. Namun yang juga perlu dibangun adalah kreativitas. Banyak anak yang tumbuh jadi orang sukses karena terbangun dari kreativitas.

“Kreatifitas hanya bisa dikembangkan jika saat mengajarinya dengan senyum, dengan cinta dan kasih sayang,” terangnya.

Anggota Wold Council for Gifted and Talented Children itu mengatakan, anak itu unik. Keunikan terletak dari bagaiamana dia merekam semua hal yang dilihat dan didengar. Daya ingat anak sebagai peniru terbaik, sangat disayangkan jika menerima ilmu negatif.

“Kedua orang tua merupakan sosok pertama yang ditiru oleh anak. Jika kedua orang tua suka marah-marah, maka anak akan meniru. Oleh sebab itu jangan sampai berhenti untuk belajar, termasuk belajar mengenai psikologi perkembangan anak,” ujarnya.

Inti psikologi perkembangan anak adalah, anak bukan orang dewasa mini. Jangan pernah sampai terpancing emosi menghadapi anak sehingga mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakiti hati. “Sekali dibentak atau dijewer, berapa sel-sel kecerdasan otak yang rusak. Oleh sebab itu, ajarilah anak dengan cinta dan kasih sayang,” ucap lulusan sarjana psikologi Universitas Indonesia ini. (gun/ila/ong)