BANTUL – Seseorang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri ternyata tak hanya menjadi tren di kalangan masyarakat Gunungkidul. Di Bantul, kasus bunuh diri juga tergolong tinggi. Bahkan cenderung meningkat.

Sejak Januari hingga pertengahan Agustus 2016 telah terjadi 16 kasus. Hanya selisih satu perkara dibanding seluruh kejadian serupa selama 2015.

Faktor penyebab perkara bunuh diri sama dengan kasus di Gunungkidul. Diantaranya, depresi akibat masalah keluarga, himpitan ekonomi, hingga penyakit yang tak kunjung sembuh.
”Usia pelaku bunuh diri antara 26 hingga 80 tahun,” jelas Kanit Inafis Satreskrim Polres Bantul Aiptu Tono Wibowo kemarin (18/8).

Factor pemicu bunuh diri selama 2015 sedikit lebih beragam. Diantaranya, ada yang gara-gara putus cinta dan depresi lantaran gagal mencari pekerjaan. Untuk usia pelaku termuda 15 tahun.

Cara bunuh diri yang dilakukan para pelaku juga bervariasi. Dari gantung diri, menceburkan diri ke laut atau sumur, lompat dari jembatan, dan menyayat leher.

Mendapati informasi ini, Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengaku kaget. Mengingat, bunuh diri merupakan tindakan yang dilarang keras oleh agama. Maupun norma sosial. “Kami ikut prihatin,” ucapnya.

Halim menganggap fenomena bunuh diri ini sebagai problem serius. Sehingga dibutuhkan penelitian dan kajian mendalam. Itu untuk mengetahui faktor-faktor pemicunya. Sekaligus threatment untuk mencegahnya.
”Perlakuan masalah kesehatan tentunya berbeda dengan ekonomi,” tutur Halim.

Diakui, Pemkab Bantul tidak memiliki program khusus antisipasi bunuh diri. Kendati begitu, Halim meyakini optimalisasi berbagai program peningkatan kesejahteraan yang digulirkan mampu berbicara banyak menekan angka kematian sia-sia ini.
Lepas dari itu, Halim mengimbau tokoh-tokoh agama ikut mengambil peran. Dengan banyak memberikan pencerahan melalui berbagai acara keagamaan.
”Tanamkan semangat pantang menyerah dan berpasrah diri,” tambahnya.(zam/yog/ong)