JOGJA – Masalah keterbatasan lahan untuk pemakaman di Kota Jogja akhirnya ada solusi. Ini setelah tahun 2016 kajian di Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), pemkot menargetkan tahun depan sudah bisa untuk pengadaan.

“Sekarang masih tahap kajian, baik dari sisi landasan hukumnya atau kesiapan lahan,” ujar Kepala Bappeda Kota Jogja Edy Muhammad kemarin (19/8).

Edy menjelaskan, dua pilihan telah mereka siapkan jika akhirnya secara regulasi tak memungkinkan. Pemkot terpaksa harus memaksimalkan empat pemakaman umum yang mereka miliki yakni pemakaman di Wirobrajan, Mantrijeron, Mergangsan, dan Tegalrejo.

“Makanya, akhir tahun ini ditargetkan sudah selesai kajiannya. Termasuk aspek hukumnya, misalnya boleh tapi harus di perdakan. Ini kan tidak sekadar membeli lahan saja,” jelas Edy.

Apalagi lahan untuk pemakaman ini tak mudah. Mereka juga harus berkoordinasi dengan pemkab terkait. “Kalau secara geografis ya di Bantul atau Sleman,” tandasnya.

Ia memastikan 2017 masalah pengadaan lahan untuk pemakaman sudah selesai. Tinggal pengadaannya saja. “Siapa yang mengadakan tunggu SOTK (Struktur Organisasi Tata Kerja),” kata mantan Kepala Bagian Pengendalian Pembangunan Sekretariat Kota (Setkot).

Dukungan percepatan solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan pemakaman ini mengemuka di DPRD Kota Jogja. Mereka mendesak pemkot segera mengatasi msalah itu.

“Karena ini masalah dasar. Kajian di Bappeda kan juga masuk permukiman,” kata Ketua Komisi D Agung Damar Kusumandaru.

Agung menjelaskan, masalah pemakaman ini sama pentingnya dengan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Sebab, pemakaman merupakan kebutuhan akhir manusia. “Semua manusia pasti membutuhkan pemakaman. Jadi, kami melihat pemakaman sudah sangat urgent. Selalu ada orang yang mati,” kata politikus PAN ini. (eri/laz/ong)