“Vlog Fest 2016 The Movie” untuk Sumbangsih Dunia Pendidikan Indonesia

Bukan Endank Soekamti jika tidak bisa mengusung ide kreatif dalam setiap karyanya. Baru-baru ini, band yang digawangi Erix, Dory dan Ari hadir dengan f lm bertajuk “Vlog Fest 2016 The Movie”. Sebuah karya berformat 360 derajad, yang diklaim baru pertama kali di dunia.

DWI AGUS, Jogja

MOMEN peringatan HUT ke-71 kemer-dekaan RI pada 17 Agustus lalu menjadi hari bersejarah bagi band pop punk asal Jogjakarta, Endank Soekamti. Setelah ber-gulat cukup lama dalam dunia sinema, lahir-lah sebuah karya berjudul “Vlog Fest 2016 The Movie”

Film berdurasi 50 menit ini merupakan sejarah baru dalam dunia sinema.Erix yang berperan sebagai sutradara sekaligus aktor men-jelaskan tercetusnya ide ini.

Menurutnya, teknologi 360° sejatinya bukanlah hal baru. Teknologi ini telah ada dan dikenal masyarakat Indonesia sejak 2 tahun belakangan. “Format ini dimanfaatkan se-bagai video eksperimen. Biasanya untuk dokumentasi, live concert atau sekadar vlog.

Awalnya memang ada yang bilang tidak mungkin. Karena format ini banyak kelemahannya,” kata Erix kemarin (19/8).

Kelemahan pertama, penonton bisa melihat kemana saja. Sebagai hal baru, format ini sebenarnya bisa menimbulkan sensasi ter-sendiri.

Hanya, dengan teknik ini hasil film rentan bocor. Artinya, segala hal pendukung seperti peralatan, crew, hingga perlengkapan belakang pang-gung otomatis ikut terekam.

Dalam dunia sinema, kondisi itu bukanlah hal biasa.Kendati demikian, Erix dan timnya mampu mengatasi “kebocoran” menjadi sebuah karya yan justru bernilai lebih.

“Kami melihat ini dengan cara yang mudah dan simpel. Menjalankan film ini dengan senatural mungkin. Tidak ada konsep dilarang bocor seperti masuknya crew atau peralatan. Cerita yang ada menjadi satu kesatuan dalam format film, ini jadi solusinya,” paparnya.

Tantangan tidak berhenti sampai di sini, terutama bagi Erix. Apala-gi, sebagai sutradara dia hanya bisa mengontrol produksi melalui audio. Berbeda dengan sutradara pada umumnya yang menjalankan tugas melalui monitor.

Untuk menguatkan sisi natu-ralisme film ini sangat tergantung pada penggunaan set film dan propertinya. Padang sabana Gunung Bromo sengaja dipilih sebagai lokasi syuting karena alamnya yang natural.

“Film ini mengisahkan perja-lanan delapan orang vlogger ke kawasan Gunung Bromo. Semua properti dan set kami tata memanfaatkan apa yang ada dis-ana. Tidak mengubah, tinggal ambil gambar dan diolah mela-lui editing,” ujarnya.

Secara umum, konsep pem-buatan film ini tak beda dengan membuat vlog. Karena itu, Erix tak menemukan banyak ken-dala saat penerapan teknik peng-ambilan gambar. Kendala mun-cul justru setelah film beredar.

Dikatakan, meski teknik 360° sudah familiar, tak semua orang paham cara menikmatinya. Hal inilah yang menjadi semangat baru bagi Endank Soekamti un-tuk melalukan promo.

“Buat yang belum paham dan mengerti pasti ada anggapan tidak logis. Tapi untuk yang mengerti ini adalah sebuah gebrakan, ka-rena pertama didunia. Apalagi penggarapannya oleh orang Indonesia,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Erix, pada 17 Agustus lalu Presiden Joko Wi-dodo juga menerapkan broadcast video 360°. Fasilitas ini disedia-kan bagi masyarakat yang tidak mengikuti Upacara 17 Agustus di Istana Merdeka. Menurutnya, konsep yang diusung presiden mirip dengan live concert.

“Teknologi dan kameranya juga sama. Itu bukti bahwa In-donesia sangat ramah dengan teknologi. Bisa memanfaatkan teknologi dengan baik, benar dan maskimal,” jelas Erix.

Film 360° memang palaing pas jika dinikmati menggunakan VR Glass. Untuk itulah, Endank So-ekamti menyertakan VR Glass dalam paket penjualan “Vlog Fest 2016 The Movie”.

Seperti judulnya, film ini ber-kisah tentang 8 orang vlogger yang mengikuti festival vlog di Bromo. Mereka berlomba-lomba mem-buat video blog untuk mempe-rebutkan hadiah. Kedelapan vlogger diperankan oleh Erix, Ari, Dory, Ulog, Lanang, Bagus, Isa, dan Ipang.

Kedelapannya merupakan penggawa dan crew dari Endank So-ekamti. Dalam film ini mereka berakting, bercerita, sekaligus mengajak menikmati alam Bromo. Bagi Erix, Vlog Fest tak akan berhenti hanya sebagai sebuah karya film.

Tapi bisa menjadi program tahunan. Misi dari film ini adalah menggalang dana untuk pendidikan di Indonesia. Endank Soekamti memiliki pro-gram DOES University sebagai sekolah gratis.

Distribusi “Vlog Fest 2016 The Movie” dalam bentuk digital di-sebarkan gratis di situs www.vlogfest.com.

Sementara, penjualan fisik film ini dikemas dalam bentuk boxset berisi VR Glass, flash disk 16 Gb berisi raw movie da-ta dan behind the scene film, t-shirt. Include sertifikat kepemilikan dengan nomor seri yang berbeda-beda setiap pemiliknya.

“Seluruh keuntungan penjua-lan fisik ini akan digunakan un-tuk pendanaan sekolah bakat gratis DOES University angkatan ke–2.

Semua orang bisa bergabung dalam sekolah ini asal memiliki niat dan minat belajar yang kuat,” katanya. (yog/ong)