JOGJA – Arus lalu lintas sepanjang Jalan Malioboro, Kota Jogja padat merayap kemarin (20/8). Kondisi itu sebenarnya bukanlah peman-dangan langka. Sebab, hampir setiap hari jalanan di jantung Kota Jogja itu memang selalu ramai
Hanya, keramaian kali ini lebih dibanding hari-hari biasa lantaran ada perhelatan pawai budaya. Tak hanya pengunjung Malioboro yang memadati jalan lurus hing-ga kawasan Titik Nol Kilometer.

Warga tumplek blek menyaksikan Pawai Pembangunan DIJ 2016. Pawai yang diikuti sejumlah elemen masyarakat dalam rang-ka promosi pameran pembangu-nan yang diselenggarakan di Taman Pintar pada 18-22 Agustus.

Selain komunitas kesenian tradisional, instansi pendidikan dan lembaga swadaya masyara-kat turut memeriahkan kegiatan sore kemarin.

Boneka kepala elang berukuran besar yang diusung di atas ke-pala truk menjadi salah satu peserta pawai yang menjadi fokus perhatian publik. Objek itu se-kaligus menjadi sarana kampanye perlindungan satwa langka oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta. Selain kepala elang, BKSDA menyuguhkan puluhan boneka berbentuk satwa yang dilindungi.

“Konsep itu menjadi salah satu cara untuk menginformasikan kepada masyarakat bahwa burung elang termasuk satwa langka yang dilindungi negara,”ujar Kusmar-diastuti, koordinator pawai BKSDA Jogjakarta.

Menurutnya, saat ini masyara-kat mulai sadar akan pengingnya perlindungan satwa langka. Tak sedikit warga yang rela me-nyerahkan hewan-hewan yang dilindungi ke BKSDA.Selain hewan langka, melalui pameran pembangunan BKSDA juga promosi kawasan konser-vasi potensial di wilayah DIJ.(c1/yog/ong)