Wisata alam di sejumlah daerah terus menggeliat, baik di wilayah DIJ maupun Jawa Tengah. Potensi wisata alam, terutama yang masih dikelola oleh warga, perlu dioptimalkan sehingga dapat membantu perekonomian masyarakatnya.
DESTINASI baru terus bermun-culan, salah satunya di Desa Sidoleren, Kecamatan Gebang, Purworejo, Jawa Tengah. Menge-mas wisata alam berupa air ter-jun dan bongkahan batu besar bertekstur unik, Air Terjun Sido Asri menjadi daya tarik tersen-diri bagi warga
Ditambah dengan suasana nyaman khas alam membuat objek wisata baru ini terus dili-rik oleh wisatawan lokal. Berada di bawah jalan utama Purworejo-Wonosobo, akses jalan menu-ju Sidoleren cukup mulus dengan rabat beton. Sementara jangkau-an menuju objek yang ditawar-kan masih berupa jalan tanah.

Batu unik yang ditawarkan dikenal dengan Batu Sumong yang diartikan menyusui dan momong. Bertekstur kasar dan menjulang tinggi, bagian atas batu bisa dinaiki untuk melihat Purworejo Kota dari kejauhan.

Sangat sejuk berada di bawah batu, karena bagian puncak batu agak menjorok keluar dan tidak sejajar dengan bawahnya. Pengunjung bisa bersantai di bagian bawah tanpa takut kehujanan saat musim penghujan.

“Tak hanya Air Terjun Sido Asri saja, ada Curug Sido Asri dengan ketinggian sekitar 30 meter yang menawarkan peman-dangan menakjubkan,” kata Danramil Gebang Kapten Su-narno saat berada di kawasan Batu Sumong, kemarin (20/8).

Belum banyak mendapat sentu-han tangan manusia, keasrian lokasinya sangat terjaga. Kesegaran air menjadi daya dukung utama bagi pengunjung yang ingin me-ngunjungi Curug Sido Asri.

Camat Gebang Kusairi me-ngatakan, adanya pengembangan objek wisata di Sidoleren diha-rapkan akan meningkatkan kunjungan masyarakat luas. Secara temporer pihak desa juga akan mementaskan kese-nian tradisional kuda kepang sebagai salah satu daya dukung.

“Kami berharap desa-desa yang lain yang memiliki potensi untuk meniru langkah Sidoleren ini,” ujar Kusairi.

Melihat Perkembangan Desa Wisata

Sementara itu, di Sleman, DIJ, keberadaan desa wisata terus di-pantau. Seiring berjalannya waktu, keberadaan desa wisata di Sleman akan diklasifikasi ulang. Klasifikasi ini untuk mengetahui lebih dalam perkembangan desa wisata.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman Shafitri Nurmala Dewi menjelaskan, klasifikasi desa wisata Sleman terakhir kali dila-kukan pada 2013. Dari klasifi-kasi itu, bisa terlihat per-kambangan desa wisata setelah beberapa tahun berjalan.

“Kami akan mengategorikan desa wisata meliputi tumbuh, berkembang, dan mandiri,” jelas Shafitri dihubungi kemarin (21/8).

Perempuan yang akrab disapa Evie ini menjelaskan, berdasar data Disbudpar, ada 18 desa wi-sata berstatus tumbuh di Sleman, delapan desa wisata berkembang, dan sembilan desa wisata man-diri. Dari jumlah tersebut masing-masing memiliki tema tersen-diri seperti desa wisata alam, budaya, dan kreatif.

“Tahun ini, kami menargetkan ada penam-bahan minimal dua desa wisata mandiri,” jelasnya.

Dia menyebut, sebenarnya ada sekitar 38 desa wisata yang sudah masuk daftar klasifikasi. Namun, beberapa di antaranya tidak ingin bergabung dengan forum komunikasi desa wisata (FKDW). Pemkab tidak bisa memaksakan desa wisata untuk bergabung.

Namun, bagi desa wisata yang tidak tergabung dalam FKDW, ada konsekuensi yang harus di-jalani, desa wisata itu nantinya tidak mendapatkan pembinaan dan program-program pember-daayaan pemerintah.

Kepala Disbudpar Sleman AA Ayu Laksmidewi mengatakan, upaya optimalisasi pola pembi-naannya desa wisata harus dila-kukan. Pembinaan itu meliputi empat aspek, mulai dari pe-ngembangan destinasi, termasuk juga pengembangan industri di kawasan desa wisata tersebut. Selain itu, pengembangan pe-masaran dan struktur kelemba-gaan desa wisata.

Menurut Ayu, masing-masing desa wisata memiliki keunikan tersendiri. Bahkan tidak bisa disandingkan dengan wisata di tempat lain. Desa wisata, jelasnya, bukan jadi saingan bagi tempat wisata lain. Tapi pengembangan-nya akan sangat berpotensi un-tuk memunculkan basis budaya lokal. (udi/bhn/ila/ong)