SLEMAN – Diskusi dan peluncuran buku berjudul Aidit, Marxisme-Leninisme dan Revolusi Indonesia yang diadakan Indie Book Corner (IBC) di Dongeng Kopi Kafe, Jalan Wahid Hasyim, Gorongan, Caturtunggal, Sabtu (20/8) malam, tetap berjalan. Sebelumnya acara itu sempat mendapat ancaman pembubaran dari beberapa ormas.

Pimpinan Redaksi IBC Syafawi Ahmad Khadafi mengatakan, ancaman pembubaran diskusi sempat muncul beberapa jam sebelum acara berlangsung. Yaitu melalui telepon maupun beberapa perwakilan ormas yang mendatangi tempat diskusi. Mereka meminta acara dibatalkan.

“Siang sekitar pukul 14.00, ada beberapa perwakilan dari massa yang mengatasnamakan Elemen Merah Putih datang ke tempat diskusi. Mereka mendatangi kami untuk menyuruh diskusi dan peluncuran buku Aidit dibatalkan. Mereka mengancam akan mengerahkan massa untuk membubarkan diskusi jika panitia tetap ngotot diselenggarakan,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (21/8).

Ia menjelaskan, untuk menengahi perbedaan pendapat antara IBC dengan perwakilan ormas, dirinya meminta perwakilan ormas untuk hadir sebagai peserta sekaligus pembicara. Tujuannya agar pendapat dari anggota ormas juga bisa digunakan sebagai pembanding dari para pembicara diskusi.

“Mereka kami tawari menjadi pembicara ketiga dalam diskusi. Tapi mereka menolak tawaran kami. Kami tawarkan, harapannya pendapat dari kawan-kawan ormas juga bisa diakomodasi dan didiskusikan bersama di dalam forum,” ujarnya.

Akhirnya IBC tetap menggelar acara itu meskipun sedikit molor satu jam menjadi pukul 19.20. Puluhan peserta diskusi pun datang di acara yang menghadirkan dua pembicara yaitu Satrio Priyo Utomo selaku penulis buku dan Muhidin M. Dahlan selaku kerani Indonesia Buku.

Dalam diskusi itu Satrio mengatakan, buku yang ditulisnya merupakan hasil dari skripsinya sewaktu menempuh kuliah di Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dari hasil penelitiannya ia menemukan bahwa pemikiran Aidit lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran Soekarno dan Tan Malaka.

Satrio juga menjelaskan pemikiran Aidit banyak dipengaruhi oleh kedekatannya dengan kaum proletar. Aidit yang merupakan penduduk Belitung, di masa kecilnya banyak bersinggungan dan mengenal kehidupan kaum buruh timah di Belitung.

Dari kedekatan inilah pemikiran Marxisme banyak memberi pengaruh pada Aidit. Pemilik nama lahir Ahmad Aidit itu lalu menyempurnakan pemahaman Marxisme kala berguru kepada Soekarno di Jakarta.

Sedangkan menurut Muhidin, Aidit itu ibarat kertas contekan bagi para pelajar. Sosoknya saat ini banyak dibaca secara diam-diam. Kalau ketahuan membuka kertas contekan, akan mendapatkan hukuman dari guru. Padahal kertas contekan ini berguna sekali.

Aidit, menurutnya, punya peran penting dalam dunia literasi di Indonesia. Di eranya hanya ada dua penulis yang menerbitkan buku pemikiran yang jumlah halamannya sangat tebal.

“Pertama adalah Soekarni dengan buku Di Bawah Bendera Revolusi I dan II. Kemudian Aidit dengan buku Pilihan Tulisan jilid I dan II. Sama tebalnya itu dengan bukunya Soekarno,” ungkapnya.

Muhidin menambahkan Aidit membangun partainya bukan dengan senjata, tetapi menggunakan produk literasi yaitu jurnal. Bagi Aidit, pendidikan paling berat adalah mendidik kader untuk mengerti ideologi partai. Caranya supaya kader bisa mengerti, Aidit kemudian membuat semacam jurnal yang dibagikan kepada kader-kadernya. (riz/laz/ong)