Teladani Sikap dan Jiwa Besar Sarwo Edi Wibowo

Menjadi sosok yang layak masuk dalam kabinet atau menjadi menteri, namun sayang Jenderal Sarwo Edi Wibowo tidak pernah diberikan kesempatan itu. Takdir berbicara lain, perjalanan non kemiliterannya hanya sebagai Kepala BP7 Pusat.
BUDI AGUNG, Purworejo
KISAH mengenai sepak terjang Sarwo Edi Wibowo itu disampaikan Presiden RI ke enam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di sela ziarah di kompleks makam keluarga Kelurahan Pangen Jurutengah, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Minggu (21/8).

Bahkan SBY juga mengungkapkan jika mertuanya tersebut pernah diajak untuk melakukan kudeta di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Kejadian itu terjadi di akhir 1973 atau awal 1974 silam. Kala itu, datang kolega sang mertua, seorang jenderal, yang mengajak untuk mengoreksi pemerintahan yang berlangsung waktu itu
“Karena anda (Sarwo Edi Wibowo, red) tidak diberi oleh negara, anda layak untuk mengoreksi kepemimpinannya,” kata SBY menirukan ungkapan salah satu jenderal yang mengajak Sarwo Edi ketika masih menjabat menjadi Gubernur Akademi Militer.

Orang Jakarta itu, lanjut SBY, terus meyakinkan dimana dengan keterlibatannya Sarwo Edi, ge-rakan pasti akan berhasil. Tapi atas kebesaran hatinya, permin-taan itu tidak pernah dituruti.

“Permintaan itu dijawab oleh Sarwo Edi, jika beliau yang ikut mendirikan negara dan turut ber-juang demi tegaknya NKRI. Semua terlibat dalam pendirian negara baik masyarakat dan militer. Kalau protes sampaikan dengan baik, jangan dengan jalan menjatuhkan,” tiru SBY yang datang ke makam bersama istri Ani Yudhoyono, Edi Baskoro Yudhoyono beserta istri dan anaknya.

Berkaca dari keteladanan Sarwo Edi Wibowo sebagai so-sok militer sejati, pascapelan-tikan Joko Widodo sebagai Presiden, ada ajakan kepada dirinya untuk tidak mendukung pemerintahan yang ada. Hanya, SBY mengaku tidak mau.

“Semua sudah memilih Pak Jokowi ya harus didukung sampai akhir. Jangan sampai jatuh di tengah jalan,” ungkapnya.

Menurut SBY, hal itu harus dilakukan di negara yang menga-nut sistem demokrasi. Seluruh elemen negara dan masyarakat harus menggalang dukungan dan menghormati pemerintahan yang ada hingga akhir.

“Sikapnya ha-rus begitu, karena disitulah etika politik demokratis,” jelasnya.SBY juga meminta agar yang mendapat amanah jangan main-main dalam menjalankan roda pemerintahannya. “Intinya jangan main-main, karena rakyat sangat berharap,” ungkapnya. (ila/ong)