GUNUNGKIDUL – Disdukcapil Gunungkidul disibukkan dengan kesemrawutan data orang meninggal dunia. Sebab sebagian besar tempat pemakaman umum (TPU) tidak mempunyai buku register kematian.

“Padahal, pendataan diperlukan untuk penerbitan akta kematian. Apa betul, orang-orang yang sudah meninggal sudah memiliki dokumen kematian yang sah menurut negara,” kata Kepala Disdukcapil Gunungkidul, Eko Subiantoro kemarin (22/8).

Dijelaskan Eko, dari hasil peng-ecekan ternyata hampir sebagian besar TPU tidak punya data pen-catatan kematian. Memang, daftar jumlah makam di setiap kecama-tan hingga pedukuhan ada, namun tidak dilengkapi nama penghuni kuburnya.

“Kami terus berupaya memonitor dan mencatat data kependudukan seakurat dan se-rapi mungkin. Termasuk di dalam-nya pencatatan terhadap data akta kematian,” kata Eko.

Dengan diterbitkannya akta ke-matian, selain sah menurut negara juga berdampak langsung terhadap akurasi setiap per-kembangan data kependudukan. Implikasi langsung terhadap orang yang masih hidup juga ada.

“Pernah juga ada kasus, orang meninggal dunia masih menerima bantuan. Atau orang yang sudah meninggal namun tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) pilkada, pileg, maupun pilpres,” kata Eko.

Tujuan penertiban data orang meninggal melalui akta kematian salah satunya juga untuk perbaikan setiap pergerakan data kependu-dukan. Pihaknya berharap, peran aktif masyarakat melapor jika ada kerabat meninggal dunia.

“Tidak cukup hanya dengan melapor, namun diteruskan dengan proses pembuatan akta kematian jangan menunda-nunda,” ujar Eko.

Mantan Sekretaris DPRD Gunung-kidul itu member contoh kasus TPU yang tidak memiliki buku register kematian. Padahal data tersebut penting keberadaannya dalam upaya penertiban administrasi data ke-pendudukan (adminduk).

“Dugaan kami, akta kematian belum semua diketahui masyarakat Gunung-kidul sebagai salah satu dokumen penting seperti halnya Elektronik Kartu Tanda Penduduk (E-KTP) ataupun akta kelahiran,” terang Eko.

Padahal, keterangan kematian yang didokumenkan melalui akta kema-tian sangat berguna terutama ter-kait kepemilikan dokumen penting seperti halnya sertifikat tanah. Mis-alnya, ketika sertifikat tanah kelu-arga harus dipecah atau ada peru-bahan nama kepemilikan, pasti di-mintai akta kematian jika pewarisnya memang sudah meninggal dunia.

Sementara itu, Kades Mulusan, Kecamatan Paliyan Supodo men-gatakan, hingga saat ini pihaknya terus memberikan sosialisasi pen-tingnya akta kematian kepada masyarakat. (gun/iwa/ong)