JOGJA – Rencana penataan pengamen ang-klung mendapatkan sambutan serius dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja.

Satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang akan berpisah menjadi Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan ini tertarik untuk mengang-kat angklung sebagai daya tarik wisatawan.

“Tidak seperti sekarang. Kesannya kan peminta-minta. Harus ditata lebih baik lagi,” ujar Kepala Disparbud Kota Jogja Eko Suryo Maharso Senin(22/8).

Eko men-jelaskan, rencana untuk membuatkan pang-gung bagi pengamen angklung itu memang masih parsial. Pihaknya belum diajak bi-cara untuk mengemas angklung tersebut tak sekadar sebagai musisi jalanan.

“Kon-sepnya seperti apa, kami masih menunggu. Tapi penataan dengan membuatkan pang-gung bagi pengamen angklung, bisa men-jadi daya tarik tersendiri,” katanya.

Seperti diketahui, buntut dari penerapan Peraturan Daerah (Perda) DIJ No 1 Tahun 2014 tentang Gelandangan, Pengemis, dan Anak Jalanan, Dintib Kota Jogja berniat menertibkan pengamen angklung.

Wujud penertiban akan dilakukan dengan membuatkan tempat khu-sus bagi pengamen angklung tampil.Kepala Bidang Pengendalian dan Ope-rasi Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Jogja Totok Suryonoto menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemprov DIJ terkait keberadaan pengamen angklung.

“Sudah ada kesepakatan untuk menata pengamen. Karena selama ini mereka berada di simpang jalan yang menggang-gu keselamatan pengguna jalan,” jelasnya.

Kajian terhadap keberadaan pengamen angklung di sejumlah simpang jalan sudah dilakukan berbagai pihak. Hasilnya, mereka tetap masuk pengamen. Meskipun memain-kan lagu dengan peralatan musik yang beragam.

“Masuk kategori sebagai pengemis,” tandasnya.Totok menyatakan, terdapat 14 kelompok pengamen angklung di Kota Jogja yang sudah didata Pemprov DIJ.

Jumlah sudah dikunci dan tidak diperbolehkan lagi ada-nya penambahan. Sebagian besar ang-gota dari kelompok tersebut merupakan warga Kota Jogja. (eri/laz/ong)