KULONPROGO – Objek wisata (Obwis) hutan mangrove di pedukuhan Pasir Kadilangu dan Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo kian pupoler. Jumlah peng-unjung makin banyak, tidak hanya hari libur, hari biasa juga banyak dikunjungi.

Banyaknya pengunjung memunculkan ide seba-gian warga mendapatkan dana dari kunjungan wisatawan. Lokasi wisata unik ini kendati masuk wilayah Kulonprogo namun berada di barat sung-ai Bogowonto atau berbatasan dengan Desa Jagabaya, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo.

Namun di balik tingginya kunjungan wisata-wan, nampaknya akan memunculkan potensi konflik. Terutama berkaitan dengan pungutan yang dilakukan dua atau lebih kelompok ma-syarakat yang berbeda. Pungutan tersebut juga sudah mulai dikeluhkan pengunjung.

Terlebih mereka yang masuk dari jalan raya Dendels sudah ditarik retribusi warga berseragam parkir. Ketika di lokasi wisata juga masih ditarik ongkos parkir dan retribusi masuk objek wisata.

Tokoh masyarakat Pasir Kadilangu, Suyadi, 60, mengungkapkan, pihaknya menarik pen-gunjung objek wisata karena memberikan fa-silitas berupa parkiran, serta jalan wisatawan di sela sela hutan mangrove di atas sungai.

“Kami di Pasir Kadilangu lokasi mangrove tidak ada hubungannya dengan penarikan re-tribusi oleh teman teman di Jogoboyo. Kami beda provinsi beda kabupaten. Pungutan di sana itu urusan mereka,” ungkap Suyadi.

Warga Pasir Kadilangu, Antok menambahkan, di Pasir Kadilangu masyarakat membuat fasilitas parkir. Kemudian jalan jembatan keliling hutan mang-rove dibuat oleh warga setempat secara swadaya.

“Kami warga di sini urunan setiap keluarga andil sekitar Rp 1.200.000 untuk membeli bambu dan lainnya untuk jembatan ini. Untuk membuatnya kami kerjakan gotong royong,” kata Antok. (tom/iwa/ong)