JOGJA – Pawai seni yang melibatkan 38 komunitas di Kawasan Malioboro menjadi penanda dibukanya gelaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 28, kemarin (23/8). Dalam pawai ini, terlihat kontingen yang berasal dari daerah lain. Sebut saja kontingen dari Kabupaten Gianyar Bali; Belitung Timur; Sumatera Utara; Nusa Tenggara Barat; dan daerah lainnya yang menampilkan ciri khas seni budaya masing-masing.

“FKY yang berlangsung sejak 1988 pada masa pemerintahan KGPAA Paku Alam VIII tidak ada matinya selama 28 tahun. Merupakan potret perjalanan dan sejarah seni budaya di Jogjakarta dari masa ke masa,” kata Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X saat pembukaan.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini juga menyambut positif keterlibatan generasi muda dalam gelaran tahunan ini. Menurutnya, kehidupan seni Jogjakarta saat ini penuh dengan sentuhan kreativitas. Dibuktikan dalam keterlibatan seniman-seniman muda.

“Partisipasi dalam seni rupa dan film yang dilakukan secara open call ini adalah bukti apresiasi seni kreativitas. Tentunya mengundang minat para seniman kreatif untuk terlibat. Di satu sisi juga membuka ekonomi kreatif,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono mengungkapkan, gelaran ini merupakan bukti nyata sinergitas dalam memajukan seni. Pihak yang terlibat tidak hanya seniman, tapi juga hingga level pemerintahan. Menyusun bersama rumusan yang tepat dalam penyelenggaran FKY setiap tahunnya.

“Selalu tumbuh berkembang dari forum silaturahmi berkesenian saat ini. Keterlibatan seniman luar Jogjakarta juga menjadi momentum untuk memperlihatkan sebuah bangsa yang kuat dan kaya kesenian,” ujarnya.

Dalam kesempaan kemarin, hadir pula Direktur Kesenian Kemendikbud RI Endang Caturwati. Endang memandang Jogjakarta sebagai sentral kesenian dan kebudayaan. Ragam seni Nusantara mampu tumbuh subur di DIJ.

“Mampu menjembatani antara seniman, masyarakat, dan pemerintah. Dapat menjadi obat kerinduan bagi masyarakat dalam menciptakan suasana semarak budaya Nusantara,” katanya.

Sama seperti tahun sebelumnya, FKY 28 berpusat di Taman Kuliner Condong Catur, Sleman. Di tempat ini menyajikan pasar seni, produk kreatif hingga dialog seni yang berlangsung hingga 9 September mendatang.

Ketua Umum FKY 28 Ishari Sahida mengungkapkan, tema Masa Depan, Hari Ini Dulu memiliki makna yang kuat. Sebagai wujud eksperimentasi terhadap wajah kesenian di Jogjakarta saat ini. Dinamika saat ini sangat mempengaruhi wujud Jogjakarta di masa depan yang akan datang.

“Kami hadirkan 16 program besar selama penyelenggaraan. Diawali hari ini (kemarin) dengan pawai seni, lalu ada pasar seni, Paperu (Pameran Perupa Muda), Jogjakarta Video Mapping Project, orkestra dari Singgih Sanjaya di tebing Breksi hingga Wayang Kulit Ki Seno,” katanya. (dwi/ila/ong)