GUNUNGKIDUL – Pendataan yang masih amburadul, menyebabkan penyandang disabilitas terlewatkan dari program jaminan kesehatan. Padahal tidak boleh ada diskriminasi pelayanan kesehatan.

Koordinator Forum Penguatan Hak Penyandang Disabilitas Gunungkidul Arni Suwarni mengatakan belum semua penyandang disabilitas mendapat jaminan kesehatan. Padahal mereka sangat membutuhkan layanan kesehatan tersebut.

“Mereka juga berhak mendapat layanan yang sama,” kata Arni Suwarni. Dia berbicara dalam seminar Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas di DPRD Gunungkidul kemarin (23/8).

Misalnya, lanjut Arni, seseorang dengan gangguan jiwa membutuhkan perawatan rutin dan obat teratur. Jika tidak melalui jaminan kesehatan tentu akan memberatkan.

“Jadi, jaminan kesehatan belum bisa diakses salah satunya karena faktor data,” ujar Arni.

Sebenarnya sudah ada program Jamkesus (Jaminan kesehatan khusus) bagi penyendang disabilitas di DIJ. Namun, belum semua penyandang disabilitas terdaftar karena proses pendaftaran cukup panjang.

“Dan ada juga penyandang disabilitas tidak memiliki identitas, tidak memiliki KTP, tidak memiliki akta kelahiran, padahal itu dibutuhkan pada saat pendaftaran,” terang Arni.

Terkait persoalan tersebut pihaknya terus menggencarkan sosialisasi. Namun selama ini yang dilakukan adalah sosialsiasi parsial dan tidak terintegrasi. Selain masih berkutat pada persoalan data, hal lain tidak kalah pelik adalah pengetahuan tentang kreteria penyandang disabilitas.

“Karena penyandang disabilitas itu beragam, tidak bisa dilihat dari fisik dan mental saja. Namun motorik dan sensorik juga,” ungkap Arni.

Mengenai anggaran, dia berharap melalui perda ada tindak lanjut dari pemerintah untuk menggelontorkan anggaran kepada penyandang disabilitas. Itu bekaitan dengan dunia pendidikan yang tidak bisa lepas dari sarana dan prasarana pendukung.

Salah satu penyandang disabilitas, Untung Subagiyo berharap, perda dapat menjadi landasan hukum upaya pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Sehingga masyarakat secara inklusif saling menerima, menghormati dan menghargai perbedaan. (gun/iwa/ong)