Soenarto PR, Tetap Konsisten Berkarya hingga Usia Senja

Sosok Soenarto Prawirohardjono memiliki peran penting dalam dunia seni rupa Indonesia. Pendiri Sanggar Bambu itu konsisten berkarya diusianya senjanya. Ini pula yang mendorong Dinas Kebudayaan DIJ menganugerahkan Anugerah Seniman dan Budayawan kepadanya.
DWI AGUS, Jogja
PENGHARGAAN diberikan kepada pelestari dan pegiat budaya di Bangsal Kepatihan, Jogjakarta, Senin malam (22/8) lalu. Dinas Kebudayaan DIJ memberikan penghargaan kepada 15 individu atau lemabaga dalam tiga kategori Anugerah Budaya Adat dan Tradisi, Seniman dan Budayawan, serta Pelestari Cagar Budaya.

Salah satunya diberikan kepada Soenarto Prawirohardjono. Pria yang akrab disapa Soenarto PR ini memiliki peran besar dalam dunia seni rupa Jogjakarta dan Indonesia. Perannya terangkum dalam sebuah komunitas seni yang diberi nama Sanggar Bambu.

Berdiri 1 April 1959 di Jogjakarta, Sanggar Bambu terus menorehkan seniman-seniman handal. Tidak hanya dalam ranah seni rupa, kelompok seni ini juga berperan dalam dunia teater, musik, dan disiplin ilmu seni lainnya.

Bagi Soenarto PR, Sanggar Bambu merupakan rumahnya belajar. Selain itu, di tempat ini pula dia berbagi ilmu dengan seniman-seniman lainnya. Proses bertukar ide inilah yang turut mewarnai indahnya dunia seni di Jogjakarta.

“Seorang seniman itu harus selalu berkarya apapun kondisinya. Menangkap kondisi sekitar sebagai inspirasi dalam berkarya. Tentunya juga menginspirasi orang-orang yang melihatnya,” katanya.

Pada malam penghargaan itu, Soenarto tidak datang sendiri. Pria kelahiran Bobotsari, Purbalingga 20 November 1931 ini ditemani keluarga besarnya. Meski harus mengenakan kursi roda, tidak meruntuhkan semangatnya untuk tetap hadir.

Baginya, penghargaan ini merupakan penyemangat untuk terus berkarya. Tubuhnya memang tak lagi muda, bahkan kulitnya mulai terlihat keriput. Tapi, semangatnya masih terlihat membara jika berbicara tentang dunia seni.

“Saya sangat senang sekali mendapat penghargaan ini. Dalam berkarya saya memang tak berpikir akan mendapatkan penghargaan. Sebagai seorang seniman, tugas saya hanya terus berkarya. Berkarya untuk bangsa,” katanya.

Perjalanan seni Soenarto PR memang cukup panjang. Bakat seninya sudah mulai terlihat saat masih duduk di bangku kelas 2 SD. Kala itu, dia mulai menorehkan beberapa sketsa wajah dan alam.

Keinginan untuk meneruskan pendidikan seni rupa semakin kuat. Menjelang remaja, Soenarto memutuskan masuk ke Akademi Seni Rupa Indonesia. Hingga akhirnya, dia menemukan jati diri sebagai pelukis realism naturalis.

Di tempat ini pula Seonarto bertemu dengan sosok maestro Affandi. Kala itu Affandi memang menjadi pengajar di kampus tempatnya belajar. Satu hal pengalaman yang tak pernah terlupakan adalah dirinya dibaptis sebagai pelukis oleh Affandi.

“Waktu itu saya sering bertanya kepada beliau saat bertemu. Lalu beliau berpesan agar jangan banyak bertanya karena saya itu adalah pelukis. Saya merasa dibaptis oleh Affandi sebagai pelukis. Sejak saat itu saya tidak lagi bertanya, tapi berkarya,” kenangnya.

Ada sepuluh karya Soenarto PR yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Mulai dari Relief dan Monumen Jenderal Ahmad Yani di Museum Sasmita Loka Jakarta hingga karyanya di Monumen Latuhary di Pulau Haruku Ambon.

Dia juga aktif dalam beberapa kegiatan seni rupa di Jogjakarta. Jika kondisi tubuh memungkinkan, dia akan meluangkan waktu untuk hadir dalam sebuah pameran. Keaktifannya juga terangkum dalam beberapa pameran tunggal maupun pameran kelompok yang diikutinya.

Ketua Sanggar Bambu Totok Buchori menilai Soenarto PR adalah sosok panutan. Usia tidak menjadikan halangan baginya untuk menyapa para perupa muda. Komunikasi terus dilakukan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam dunia seni rupa.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mengungkapkan, penghargaan ini sebagai wujud apresiasi. Menurutnya, peran seniman, budayawan, dan pelestari sangat besar bagi Jogjakarta. Semuanya memiliki peran besar untuk menjaga keistimewaan Jogjakarta dari berbagai aspek khsusnya seni dan budaya. (bersambung/ila/ong)