PURWOREJO– Upaya perlin-dungan dan pengembangan hutan mangrove oleh Komuni-tas Mangrove Purworejo (Koman-gjo) diapresiasi pemerintah pusat.

Terlebih, kawasan mang-rove di Desa Gedangan, Purwo-dadi tersebut sekaligus menjadi area penyelamatan penyu. Apresiasi pemerintah berupa penghargaan dalam lomba Wa-nalestari (penyelamatan hutan).

Bahkan, anggota komunitas me-meroleh kesempatan bertemu Presiden Joko Widodo dan ang-gota DPR RI untuk memaparkan kegiatan perlindungan mang-rove di Purworejo.

“Sebelum ke istana, kami mendapat anugerah terbaik se Jawa Tengah. Di ting-kat nasional menjadi terbaik kedua,” kata Pembina Koman-gjo Imam Tjiptadi kemarin (24/8).

Dikatakan, Komangjo terbentuk bukan atas dasar kesengajaan. Diawali dari diskusi kecil dengan kelompok pemuda yang peduli lingkungan. Hingga terbentuklah Komangjo.

Memanfaatkan Kali Pasir yang memanjang 5 kilome-ter dengan bentangan selebar 40 meter. Komangjo berusaha me-nambah areal mangrove dengan melibatkan banyak pihak.

“Di Gedangan kami menyebutnya Demang Gede atau Desa Mang-rove Gedangan Purwodadi. Disini kami berusaha menambah populasi mangrove dan melaku-kan pengembangan untuk ber-bagai kegiatan,” katanya.

Beberapa program yang digel-uti, diantaranya, mangrove kaya-king, mangrove camping, pena-naman mangrove, mangrove education centre dan kebun bibit mangrove.

Selain diarahkan un-tuk kegiatan wisata minat khu-sus, Komangjo dan Demang Gede memberikan edukasi ke-pada siswa sekolah atau pihak lain yang ingin melihat peng-embangan mangrove.

“Banyak manfaat yang bisa dipetik dari pengembangan mangrove ini. Selain sebagai penahan kemun-gkinan tsunami, juga untuk rum-pon aneka jenis ikan,” lanjut Imam.

Pelan tapi pasti, Komangjo mu-lai menuai hasil dari jerih payah mereka. Setidaknya, mereka tidak perlu lagi iuran setiap kali meng-gelar kegiatan.

Kini, banyak pihak dengan senang hati memberikan dukungan dan bantuan.Awalnya, anggota Komangjo harus memanjat mangrove se-kadar untuk memeroleh bibit. Sekarang, bibit mereka peroleh dari instansi pemerintahan.

Wahyudi, anggota Komangjo menambahkan, terkait penyelama-tan penyu saat ini telah dibuat hachery sebagai tempat peneta-san telur hewan amfibi itu. Lo-kasi hachery berada di bibir pantai yang berjarak 200 meter dari barisan mangrove.

“Setelah menetas kami lepaskan liar. Pada bulan-bulan tertentu ba-nyak penyu mendarat untuk bertelur di kawasan ini,”katanya.

Kepala Desa Gedangan Supoyo mengaku senang adanya gerakan mangrove dan penyu di desanya. Ini menindaklanjuti keinginan masyarakat untuk menyelamatkan desa dari ancaman tsunami.

“Ke depan akan kami kembangkan sebagai destinasi wisata. Segala sesuatunya sedang disiapkan. Agar saat peluncuran nanti semua sudah tertata,” paparnya.(udi/yog/ong)