Singgih Sanjaya Bermimpi Satukan Nusantara lewat Musik

Malam penghargaan Pelestari dan Penggiat Budaya Jogjakarta oleh Dinas Kebudayaan DIJ menjadi kenangan tak terlupakan bagi RM Singgih Sanjaya. Musisi yang telah malang melintang di dunia musik Indonesia ini mendapatkan penghargaan Seniman dan Budayawan Pelestari.

DWI AGUS, Jogja

MASIH tidak terbayang dibenak Singgih, sapaannya, mendapatkan penghargaan pelestari seni dan budaya. Senin malam (22/8) lalu menjadi momen tak terlupakan bagi pria yang berprofesi sebagai composer dan arranger music ini.

Mengenakan surjan berwarna merah, Singgih berdiri gagah bersama penerima penghargaan lainnya. Pria kelahiran Surakarta, 7 September 1962 ini terlihat mantap ketika bertemu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X.

Dia menilai penghargaan ini sebagai tanggung jawab besar yang harus dijaga dengan baik. “Dulu saya tidak terpikir mendapat gelar seniman atau budayawan. Mengalir saja, intinya tetap berkarya. Dengan adanya ini (penghargaan) memotivasi untuk berbuat lebih,” jelas Dosen Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Jogjakarta ini.

Penghargaan ini memang pantas disematkan kepada Singgih. Dalam hal karya, tangan emas Singgih tidak perlu diragukan lagi. Puluhan kali dia terlibat dalam proyek musik hingga konser orchestra. Dia juga sukses mengisi beberapa ilustrasi musik film-film Indonesia. Mulai dari film Maha Lara produksi TVRI hingga film Jejak Sang Elang yang ditayangkan Indosiar.

Ada pula deretan proyek aransemen musik secara individual maupun kolaborasi. Terakhir dia mengisi sebuah album kolaborasi yang melibatkan musisi-musisi Indonesia. Dalam kesempatan ini dia menggarap Langgam Keroncong Untukmu Indonesia yang diciptakannya sendiri.

Bapak tiga anak ini juga pernah menulis jurnal untuk International Conference for Asia Pacific Arts Studies pada 2015. Tulisannya ini mengusung tema New Composition Concept for Keroncong Music. Belum lama ini Singgih membuat jurnal Konsep Aransemen Dalam Metode Lima Langkahy Aransemen Musik. Ini ditulis untuk jurnal seni kampus ISI Jogjakarta.

Total dia sudah menerima 29 penghargaan sejak 1982. Penghargaan ini diraihnya secara individu muapun kelompok musik. Singgih menilai penghargaan ini sejatinya tak hanya bagi dirinya saja. “Penghargaan ini merupakan motivasi bagi semua musisi untuk menghasilkan karya yang indah. Apalagi saya bekerja bersama dengan banyak musisi bertalenta lainnya,” ungkapnya.

Ini digambarkan saat Singgih aktif menjadi arranger Gita Bahana Nusantara Orkestra dan Paduan Suara. Kelompok ini bukanlah kelompok musik biasa. Setiap tahunnya, mereka mengisi upacara kemerdekaan 17 Agustus di Istana Merdeka Jakarta.

“Saya menjadi arranger Istana Merdeka sudah lima kali, dari 2010 hingga 2014. Selama itu pula saya bertemu dengan musisi-musisi berbakat seluruh Indonesia. Untuk masuk di kelompok ini tidaklah mudah, karena diseleksi di setiap daerah,” ujarnya.

Dia memiliki impian menyajikan ragam musik Nusantara dalam wujud orkestra. Konsepnya, melibatkan penyanyi dan alat musik tradisi. “Kalau sekadar kolaborasi biasa pasti bisa, tapi saya ingin ada yang lebih. Mampu menggambarkan keindahan Indonesia dengan ragam budayanya. Musik, saya nilai mampu merangkum keindahan ini,” ujarnya. (ila/ong)