JOGJA – Ada yang berbeda dari gelaran Jogja Fashion Week (JFW) 2016 kali ini. Dalam pembukaan yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) kemarin (24/8), tak hanya para model yang berlenggak-lenggok di atas catwalk. Sejumlah pejabat Pemprov DIJ pun terlihat enjoy saat berjalan di atas runway layaknya peragawan dan peragawati.

Sebut saja Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIJ Sigit Sapto Raharjo; Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kadarmanta Baskara Aji; Kepala Dinas Sosial DIJ Untung Sukaryadi, dan Kepala Dinas Pariwisata DIJ Aris Riyanta. Mereka tampil dalam satu panggung menampilkan busana batik alusan.

Ada pula Kepala BNP DIJ Ari Yuriwin; Kepala Biro Administrasi Kesra dan Kemasyarakatan Pujiastuti; Asisten Administrasi Umum Kristiana Swasti; Kepala BBPOM DIJ I Gusti Ayu Adhi Aryapatni; Kepala Perwakilan BKKBN DIJ Evi Ratnawati; dan pejabat lainnya.

Meski enjoy, para pejabat ini terlihat agak canggung. Tak heran, jika gerak-gerik mereka mengundang gelak tawa penonton. Termasuk Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X yang sesekali tersenyum melihat aksi anak buahnya.

“Gelaran ini menarik. Sekaligus menampilkan nilai-nilai budaya terutama kain batik sesuai dengan tema yang diusung The Heritage,” ujar HB X dalam sambutannya.

HB X mengungkapkan, batik telah menjadi warisan budaya Indonesia yang mempunyai keunikan dan mengandung simbol serta filosofi yang mencakup siklus kehidupan manusia. “Hal tersebut menjadi konsekuensi pemerintah dan masyarakat untuk ikut serta melestarikan batik sebagai bahan edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, gelaran fesyen tahunan yang diadakan 24 sampai 28 Agustus 2016 ini juga menampilkan ratusan karya desainer dari sejumlah daerah. Pada hari pertama kemarin, diperagakan juga busana Fashion Art yang menyuguhkan hasil karya sejumlah desainer.

Salah satunya, karya dari mahasiswa Jurusan Kriya ISI Jogjakarta Ika Yeni Saraswati, 22. Ika menampilkan busana yang mengusung tema heritage yang dipadupadankan dengan tanduk rusa. “Karena temanya heritage, saya mengusung cerita lama tentang simbol rusa yang menggambarkan seorang perempuan yang gesit dan menyatukannya dengan batik khas keraton,” jelasnya.

Berbeda lagi dengan desainer Bunga Kusumawi Citra, 22, yang menyuguhkan tema Peksi Tirta Teja dengan sayap burung seperti garuda dan mengombinasikannya dengan batik Tirta Teja. Selain mereka berdua, ada juga karya mahasiswa UNY dan desainer kenamaan seperti Isyanto, Totok Prihasmanto, Joko SSP, Dedy Hertanto, Eko Tjandra, serta lainnya. (cr1/ila/ong)