PURWOREJO – Keberadaan susunan batu di Bukit Pajangan, Dusun Makamdowo, Sidomulyo, Purworejo, yang menghebohkan masyarakat karena diduga candi, perlu diluruskan. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti dari Badan Arkeologi (Balar) Jogjakarta dan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jogjakarta tegas mengatakan bahwa susunan batu itu bukanlah candi, melainkan susunan batu yang terbentuk oleh proses alam.

“Adanya beragam isu yang berkembang, sebaiknya diluruskan dan tidak usah diperpanjang lagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa itu bukan candi,” kata Kepala Seksi Sejarah Purbakala dan Nilai Tradisi Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Purworejo Eko Riyanto kemarin (25/8).

Dikatakan Eko, pihaknya menerima hasil laporan penelitian yang dilakukan pada 16 Agustus 2016 oleh empat peneliti dari Jogja, kemarin. Hasilnya dinyatakan jika tidak ada indikasi data arkeologi di Sidomulyo, baik artefak, ekolak maupun fitur yang menunjukkan bahwa Bukti Pajangan merupakan situs arkeologi. “Artinya bukan saja tidak ada candi di lokasi itu, bahkan jejak kehidupan masa lalu pun tidak ditemukan,” tandasnya.

Dijelaskan, apa yang dilihat masyarakat saat ini di mana menilai ada nilai keindahannya, merupakan fenomena geologis. Bukit Pajangan bukan produk budaya atau peradaban tertentu, tetapi produk alami.

Pada bagian atas bukit yang tersikap oleh longsoran beberapa waktu yang lalu, menyisakan batu-batu berukuran sangat besar yang terkesan menggantung, sehingga menyimpan potensi bahaya karena dapat terlepas dan meluncur sewaktu-waktu. Hal ini menjadi potensi ancaman yang serius terhadap permukiman warga di sekitar bukit maupun masyarakat yang ramai berkunjung.

“Hasil di lapangan, apa yang terlihat di Sidomulyo berdasar data geologi berupa kekar kolom memang tergolong unik. Meskipun juga ditemukan di tempat lain, sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai objek kunjungan melalui Taman Geologi (Geo Park) Bukit Pajangan,” katanya.

Guna melangkah ke arah geo park memang perlu dilakukan kajian yang lebih luas dan mendalam, khususnya berkenaan dengan pencerdasan masyarakat mengenai fenomena geologis sekaligus berkaitan dengan mitigasi bencana tanah longsor. “Yang paling mendasar untuk itu adalah jaminan keselamatan bagi warga di sekitarnya maupun pengunjung nanti,” tambah Eko.

Perbukitan Menoreh, lanjutnya, adalah kompleks old andesite formation (Oligo-Miosen) yang ditutupi batu gamping transgresif Jonggrangan. Van Bemmelen (1949) menunjukkan bahwa dari utara ke selatan terdapat tiga kerucut vulkanik yang mungkin merupakan volcanic cores-nya, yaitu dari utara ke selatan: Menoreh, gajah, dan ijo volcanoes. Kekar kolom di bukit Pajangan secara lokasional berdekatan dengan gunung api Gajah, tepatnya berada di sebelah barat kubah sisa gunung api itu. (udi/laz/ong)