GUNUNGKIDUL – Nelayan di Pantai Drini, Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari mengeluhkan kepiting yang tidak memiliki nilai jual. Susah payah menjaring kepiting dengan hasil melimpah, pencari rezeki laut tersebut justru merugi.

Salah seorang nelayan, Eko Widiyanto mengatakan, kepiting yang ditangkap adalah jenis pengkok. Sebenarnya tangkapan kepiting jenis ini melimpah ruah, namun begitu sampai daratan tidak ada harganya. “Tidak bisa dimanfaatkan, kepiting pengkok hanya kami kubur,” kata Eko.

Padahal, kata Eko, sejak sepekan terakhir tangkapan kepiting pengkok mengalami peningkatan cukup tajam. Sekali melaut, mampu menangkap kepiting pengkok sebanyak 40 hingga 50 kilogram. “Penangkapan terbesar sejak beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Kepiting pengkok yang sudah menggunung tersebut tidak memiliki nilai jual. Kepiting yang memang sebagian besar tubuhnya hanya berisi cangkang keras dan tidak memiliki daging itu tidak memiliki nilai jual.

“Sebenarnya mencari kepiting jenis pengkok bukan tujuan, namun karena untung-untungan, karena tangkapan ikan sedikit,” ungkapnya.

Upaya memanfaatkan kepiting jenis pengkol untuk menutup kerugian justru kerugian yang didapat. Kepiting pengkok merusak jaring sehingga harus kembali memperbaiki jaring usai melaut. “Sudah tidak laku dijual, malah merusak jaring kami,” terangnya.

Menghindari bau busuk, nelayan harus mengubur bangkai kepiting. Selain meminimalkan pencemaran udara, nelayan ingin kepiting jenis itu populasinya makin berkurang.

Hal senada disampaikan nelayan lain, Sarno. Selain merugi karena kepiting jenis pengkol tidak ada harganya, dia juga dibuat pusing dengan tidak adanya SPBU khusus nelayan di wilayah Pantai Selatan. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan harus mencari bahan bakar hingga ke Kecamatan Wonosari. “Jaraknya puluhan kilometer,” kata Sarno.

Dengan persoalan yang tengah menghimpit, dia berharap pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan khusus yang berpihak kepada para nelayan. (gun/iwa/ong)