JOGJA – Semua orang pasti ingin meningkat menjadi baik. Tak peduli kesalahan mereka, pasti ada niat untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Inilah yang terngiang di benak penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan.

Semangat untuk menjadi manusia yang berguna ini hampir terngiang di benak 60-an penghuni lapas yang mengikuti pelatihan mengolah sampah di Lapas Wirogunan. Selepas menjalani masa hukuman, mereka bisa benar-benar ingin menjadi manusia produktif.

Salah seorang penghuni lapas, Suryanto menjelaskan, dinding tebal dan pagar gawat tinggi yang membatasi aktivitas mereka bukanlah penghalang untuk bisa menimba ilmu. Makanya, setiap ada kesempatan untuk mengolah keterampilan, dia selalu antusias dan bersemangat.

“Semuanya diajarkan. Selain ini (mengolah sampah kertas menjadi tas), biasanya membuat kerajinan dari kayu,” tandas Suryanto di sela pelatihan dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja, kemarin (25/8).

Dia mengungkapkan, telah lebih dari dua tahun menjalani hukuman di balik jeruji penjara. Dia sudah menerima keputusan atas kesalahannya di masa lalu. “Saya mendapatkan hukuman delapan tahun. Setelah ini, saya ingin bisa tetap bekerja,” katanya.

Harapan mulia warga binaan tersebut, menurut Kepala Seksi Kegiatan Kerja Ganif Efendi, harus disalurkan ke hal-hal yang positif. Makanya, lapas bekerja sama dengan perusahaan dan instansi. Ini semata-mata mereka lakukan untuk menampung produktivitas penghuni lapas.

“Kami sudah bekerja sama membuat tas, daur ulang sampah, sampai pertukangan. Agar mereka (warga binaan) bisa lebih produktif,” jelasnya.

Ganif menjelaskan, warga binaan yang bisa mengikuti pelatihan tersebut harus memenuhi persyaratan khusus. Pertama, mereka harus berkelakuan baik sejak masuk lapas. “Ada syarat setelah menjalani sepertiga hukuman. Tapi, itu tidak semuanya. Karena kalau yang mendapatkan hukuman 20 tahun, masa harus menunggu tujuh tahunan,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, pelatihan membuat tas dari kertas, furniture, dan berbagai kriya lain merupakan sarana agar setelah keluar lapas, mereka ada peningkatan. “Mereka sudah bisa meneruskan apa yang dilakukan di dalam sini,” katanya.

Kepala BLH Kota Jogja Suyana menegaskan, warga binaan di lapas ternyata lebih baik dalam memperlakukan sampah daripada warga di luar lapas. “Buktinya sampah dikelola dengan baik. Dari yang organik bisa dijadikan kompos. Plastik didaur ulang, kertas dibuat tas. Semuanya berguna,” kata Suyana.

Dia mengatakan, untuk pengolahan sampah dari kertas koran menjadi tas, itu sudah ada penyalurnya. Penghuni lapas tak perlu khawatir hasil kerajinan tersebut nantinya hanya menjadi pajangan. “Di Sleman ada perusahaan yang memproduksi tas dari kertas. Hasilnya, sudah sampai di luar negeri. Permintaannya selalu kurang,” jelasnya. (eri/ila/ong)