SLEMAN – Aksi penipuan berkedok investasi kembali terjadi di wilayah Sleman. Alih-alih mendapatkan keuntungan, puluhan investor malah tekor. Iming-iming keuntungan besar yang dijanjikan tersangka tak pernah terealisasi. Pelaku adalah pasangan kekasih, Yudis Setyowati, 38, warga Sanggrahan, Purwomartani, Kalasan, Sleman dan R.M. Andhika Ardhaniriswara, 40, asal Suryomentaraman Kulon, Panembahan, Kraton, Kota Jogja. Perkara tersebut saat ini dalam penanganan Polres Sleman.

Kapolres AKBP Yulianto mengatakan, dari praktik tipu-tipu tersangka bisa menghimpun dana hingga Rp 8 miliar. Namun, bukti yang dikantongi penyidik baru Rp 2,6 miliar. “Melihat jumlah total uang setoran kemungkinan masih banyak korban lain yang tertipu,” ungkapnya di mapolres setempat kemarin (25/8).

Dijelaskan, tersangka menipu calon korban dengan modus investasi usaha percetakan yang dijalankan di Jalan Magelang, Mlati, Sleman. Dua tersangka berbagi peran. Andhika bertugas mencari dan membujuk calon investor, sedangkan Yudis bertindak sebagai ekskutor penanaman dana yang disetor para korban.

Para korban dijanjikan keuntungan 10 persen per bulan dari dana yang disetor. Hal itu membuat para korban tergiur, sehingga mereka berlomba-lomba menyetorkan uang ke perusahaan yang dikelola tersangka. “Nilai investasi tiap korban bervariasi. Bahkan ada yang mencapai lebih dari Rp 180 juta,” ungkap perwira Polri dengan dua melati di pundak itu.

Belum setahun modal ditanamkan, lanjut Kapolres, para investor ternyata tak memeroleh pembagian hasil usaha sesuai yang dijanjikan tersangka. Merasa ditipu, sebagian korban lantas berusaha menemui pelaku. Namun upaya itu selalu gagal. “Bosan selalu dijanjikan, akhirnya mereka melaporkan dua tersangka ini ke Polres Sleman. Sedikitnya ada 24 korban yang melapor,” jelas Kapolres.

Mendapat laporan korban, polisi segera turun tangan. Kedua pelaku ditangkap di rumah masing-masing. Dari tangan tersangka polisi menyita 11 buku tabungan dari beberapa bank untuk kepentingan penyidikan.

Dari pengakuan tersangka, uang yang mereka kumpulkan ternyata tak digunakan untuk menjalankan roda usaha. Tapi, untuk keperluan pribadi. “Secara fisik, usaha advertising itu memang benar ada. Hanya, selama ini pasif dan tidak menentu. Banyak order dari konsumen dilempar ke percetakan lain,” ungkapnya.(bhn/yog/ong)