JOGJA – Lebaran kurban tinggal setengah bulan lagi. Takmir masjid pun sudah bersiap untuk menyambut penyembelihan hewan kurban dan membagikannya. Begitu juga dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja.

Mereka bakal fokus untuk mengawasi sapi dari luar daerah. Terutama sapi yang berasal dari Boyolali dan Sragen. “Kedua daerah itu menjadi perhatian kami agar sapi kurban yang disembelih nantinya benar-benar sehat. Tidak terkena penyakit antraks,” tandas Kepala Seksi Pengawasan Mutu Komoditas dan Kesehatan Hewan Disperindagkoptan Kota Jogja Endang Finiarti kemarin (25/8).

Ia menjelaskan, ciri-ciri hewan yang terserang antraks adalah tubuh demam dan mengeluarkan cairan merah kehitaman dari mulut atau hidung. “Makanya kami mewajibkan setiap sapi yang akan untuk kurban wajib mengantongi surat sehat dari dinas setempat,” katanya.

Hewan kurban di Kota Jogja memang banyak berasal dari luar kota. Selain dalam provinsi seperti Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo, dan Sleman yang mencukupi, daerah penyangga dari Jawa Tengah pun banyak yang menyetorkan sapi ke Kota Jogja.

Hal itu karena harga sapi dari luar DIJ ini lebih murah dibandingkan sapi lokal. Harga sapi dari luar DIJ itu rata-rata saat ini Rp 18 juta sampai Rp 20 juta untuk sapi yang mengeluarkan daging 2,5 kuintal sampai 3 kuintal. “Kalau hanya dari Kota Jogja saja jelas tidak mencukupi,” jelasnya.

Kenaikan harga sapi itu, menurut Jatmikanto, salah seorang penyedia hewan kurban di daerah Giwangan, akan naik menjelang hari H. Dengan harga saat ini, biasanya naik sampai 20 persen. “Tergantung juga kualitas hewannya. Kalau yang besar akan naik tinggi,” katanya.

Ia menegaskan, untuk pembelian sapi biasanya memang menyasar dari luar DIJ. Tapi kondisi sapi pasti sehat. “Tidak mungkin kami menjual sapi cacat atau terkena antraks. Pasti tidak laku karena tidak memenuhi syarat hewan kurban,” katanya.

Untuk pemantauan kesehatan hewan kurban itu, Disperindagkoptan akan mengerahkan 125 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada. Mereka akan dibagi di tiap kecamatan dan akan memeriksa kondisi kesehatan hewan di seluruh lokasi penjualan. Kemudian sapi sehat akan diberi label layak disembelih. (eri/laz/ong)