SLEMAN – Kabupaten Sleman memiliki potensi budidaya ikan air tawar yang menjanjikan. Terbukti, angka produksi dan permintaan pasar selalu meningkat setiap tahunnya.

Namun, tren positif itu tak diimbangi dengan ketersediaan lahan dan sumber daya manusia (SDM). Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar harus disuplai dari daerah lain.

Pengelola Pasar Ikan Mina Nogotirto, Kwarasan, Nogotirto, Gamping Parijo mengaku setiap hari hanya mampu menyediakan 2-3 kuintal. Padahal, permintaan konsumen mencapai lebih dari 7 kuintal. Kekurangannya didatangkan dari Klaten, Kedungombo, dan Wonogiri.

“Kalau permintaan sangat banyak, kami sampai harus mendatangkan ikan dari Jember, Jawa Timur dan Jatiluhur serta Ciamis di Jawa Barat,” katanya disela kunjungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Hediati Soeharto kemarin (26/8).

Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman Suparmono membenarkan pernyataan Parijo. Menurutnya, produksi ikan di Sleman terus meningkat hingga 20 persen selama lima tahun terakhir. Total produksi mencapai 40 ribu ton/tahun. Jumlah tersebut tetap belum mampu untuk memenuhi permintaan pasar. “Itu jauh lebih tinggi dari peningkatan produktivitas ikan di DIJ yang hanya 10 persen,” katanya.

Titiek Soeharto mengimbau petani ikan tetap berupaya meningkatkan produktivitas. Keterbatasan lahan, kata Titiek, bisa diatasi dengan penerapan pola tanam mina padi. Sedangkan, minimnya SDM bisa diupayakan dengan lebih memperkenalkan potensi bisnis perikanan kepada generasi muda. “Anak-anak muda perlu dilibatkan. Dengan mengajak anak sekolah study tour ke kawasan mina padi ketika panen,” tuturnya.

Titiek optimistis, generasi muda akan tertarik pada bidang perikanan setelah melihat hasilnya. Terlebih, lanjut Titiek, usaha mina padi bisa mendatangkan keuntungan hingga Rp 52 juta/hektare. (riz/yog/ong)