BANTUL – Proyek pembangunan pasar Pleret telah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Tetapi, proses pengerjaan bangunan di sisi selatan pasar tradisional ini mengalami sedikit gangguan. Sebagian pedagang melarang alat berat beroperasi di lokasi tersebut.

“Bahkan, sempat ada cekcok antara sopir backhoe dan pedagang,” jelas Suratman, salah satu warga sekitar pasar Pleret kemarin (26/8).

Setelah berembug, ketegangan antara kedua belah pihak tersebut mereda. Para pekerja proyek pilih mengalah. Mereka bersedia mengoperasikan alat berat di atas jam 12.00. Setelah kondisi pasar sepi. Atau tak ada lagi proses transaksi antara pedagang dan konsumen. “Otomatis pagi tidak ada alat berat,” ucapnya.

Kepala Kantor Pengelolaan Pasar Slamet Santosa mengaku telah menyosialisasikan rencana pembangunan pasar kepada para pedagang. Salah satu poinnya, pintu akses keluar-masuk sebelah selatan yang menjadi titik pembangunan ditutup sementara. “Harusnya ditutup,” tegasnya.

Agar pembangunan segera selesai, Slamet berjanji segera meninjau Pasar Pleret. Slamet meminta kontraktor memasang penutup antara titik pembangunan dan para pedagang.

“Biar alat berat (tetap) bisa beroperasi pagi hari,” tandas Slamet.

Slamet menggaransi, proses pembangunan pasar bakal selesai tepat waktu meskipun pelaksanaannya sempat tersendat. Alasanya, Pasar Pleret hanya beroperasi pada hari pasaran tertentu. Yakni, Pon dan Pahing. Dengan begitu, pelaksana proyek bisa mengoptimalkan pengerjaan volume pembangunan saat pasar tidak beroperasi.

Sesuai kontrak, pelaksanaan proyek selama 120 hari. Terhitung sejak 9 Agustus 2016. Proyek tersebut diperkirakan menelan anggaran hingga Rp 2,5 miliar. Untuk membangun 60 kios, dua los besar, kantor, dan aula pasar.(zam/yog/ong)