SLEMAN – Kemiskinan masih menjadi persoalan yang harus dicarikan solusinya segera. Tak hanya meningkatkan kesejahteraan saja, tapi juga menyangkut kemandirian warga. Upaya untuk mengentaskan persoalan kemiskinan ini dilakukan Kementerian Sosial (Kemensos) melalui elektronik warung gotong royong (e-warong). Sasarannya adalah kelompok usaha bersama (KUBE) program keluarga harapan (PKH).

E-warong ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok bagi anggotanya dengan harga terjangkau. Sekaligus menjadi agen bank. “Bahkan bisa menjadi agen bank negara. Masyarakat bertransaksi nontunai, semua fungsi ATM dapat dilaksanakan di e-warong,” ujar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat berkunjung ke Kantor Jawa Pos Radar Jogja, Jumat (26/8).

Khofifah mengatakan, tujuan e-warong ini menggerakkan kelompok usaha ekonomi lokal dan mendekatkan kebutuhan pokok di masyarakat dengan memutus jalur distribusi. Sehingga harga yang dijual jauh lebih terjangkau.

“E-warong menjadi tempat pemberdayaan ekonomi masyarakat, tempat memajang dan menjual hasil produksi usaha ekonomi produktif KUBE. Termasuk menerapkan sistem penyaluran bantuan sosial (bansos) nontunai,” ungkap menteri penggemar kopi pahit ini.

Khofifah mengungkapkan, adanya e-warong diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena mereka bisa membeli sembako dengan harga yang terjangkau. Disamping itu juga bisa memperbaiki gizi masyarakat.

“Karena di e-warong juga menjual daging yang dijual per satu ons dengan harga terjangkau. Otomatis bisa menjadi solusi perbaikan gizi masyarakat,” ungkapnya.

Modal kerja untuk pengadaan sembako, lanjutnya, disediakan oleh Bulog dan dibiayai oleh bank dengan jaminan dari Koperasi Masyarakat Indonesia Sejahtera (KMIS). KMIS bertanggung jawab membina usaha KUBE yang telah dibentuk Kementerian Sosial. Dengan demikian anggota KUBE fokus pada operasi jual beli di e-warong tersebut.

Menurut Khofifah, peserta e-warong berasal dari penerima PKH dan Beras Sejahtera (Rastra). Peserta e-warong dapat memiliki usaha karena sistem e-warong mengharuskan masyarakat membentuk KUBE dengan dasar hukum koperasi. Peserta e-warong secara otomatis juga menjadi peserta bank mitra yang ditunjuk. Di DIJ, bank mitra yang ditunjuk yakni BNI.

Melalui format buku tabungan, maka penerima bantuan bisa menerima bunga dari tabungan yang disimpan. Selan itu, dengan sistem koperasi, mereka masih bisa mendapatkan keuntungan melalui sisa hasil usaha (SHU).

Dia menargetkan, 300 e-warong dengan 612.000 penerima PKH dari total 3,5 juta penerima PKH hingga akhir Desember. Di DIJ, ditargetkan bisa menyasar 43 warung dengan 43 ribu penerima PKH di Kulonprogo serta 17 warung bagi 17 ribu penerima PKH di Kota Jogja.

Melalui sistem e-warong, dia optimistis masyarakat miskin penerima bantuan sudah dapat mandiri dalam waktu dua tahun. Target tersebut lebih cepat dibanding penyaluran bantuan secara tunai. Sebab, dengan sistem e-warong penyaluran bantuan sosial dapat tepat guna, tepat sasaran, tepat jumlah, dan tepat waktu.

“Saat peresmian e-warong di Bintaran tadi sore (kemarin), saya tanya ke warga mana mal terbesar di DIJ. Lantas saya tanya lagi, siapa yang sudah masuk ke mal terbesar tersebut? Jawabannya, tak ada yang ke sana. Alasannya ya karena tak mampu,” ungkapnya.

Warga, lanjutnya, merasa minder untuk masuk ke mal karena merasa miskin. Rasa minder inilah yang ingin dihilangkan, caranya dengan memperbaiki kesejahteraan mereka. “Saya bilang, dengan kartu KMIS ini bisa saja masuk mal, tapi tidak untuk konsumtif. Namun untuk membeli buku-buku untuk anak dengan sisa dana yang ada di dalam kartu tersebut,” ungkapnya.

Direktur Jawa Pos Radar Jogja Eri Suharyadi menyampaikan siap menyosialisasikan program pemerintah. Apalagi, program ini memiliki kekuatan sebagai salah satu solusi pengentasan kemiskinan.

“Ini bisa menjadi jalan keluar pengentasan kemiskinan. Karena mereka diberi ruang untuk berusaha,” jelasnya. (bhn/ila/ong)