PENELITI dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM Hempri Suyatna menyatakan, ada plus-minus dengan pendirian mal maupun pendirian toko modern berjejaring nasional.

Karena itu, salah satu pemateri dalam Diskusi Publik bertajuk Pro Kontra Menyoal Rencana Pembangunan Mal dan Toko Berjejaring Nasional di Bantul ini meminta pemkab ekstra hati-hati merealisasikannya.

“Jangan hanya berbicara pada aspek ekonomi. Aspek sosialnya juga harus diperhatikan,” tegas Hempri.

Hempri menilai keberadaan toko modern, apalagi mal memiliki dampak serius bagi masyarakat. Di antaranya adalah matinya toko kelontong. Yang tak kalah menakutkannya lagi adalah perubahan perilaku masyarakat.

“Budaya konsumtif meningkat. Yang semula tidak punya kartu kredit malah punya banyak,” bebernya.

Menurutnya, sejumlah dampak negatif ini belum seberapa. Dalam beberapa kasus di Sleman, rencana pem bangunan toko modern saja mampu memicu perpecahan di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan investor main mata dengan sebagian masyarakat.

Praktiknya, investor menggelontorkan uang Rp 25 juta kepada kelompok masyarakat tertentu. Uang itu sebagai pelicin agar mereka menyetujui rencana pendirian toko modern di wilayah mereka.

“Sementara kelompok ma-syarakat lain tetap getol menolak,” ungkapnya.

Berkaca dari pengalaman ini, Hempri meminta masyarakat juga harus ber-sikap kritis. Itu untuk mengantisi-pasi strategi politik yang digencarkan investor. “Permainan politik uang sering kali memecah masyarakat,” tandasnya.

Terkait pendirian mal, Hempri lebih sepakat andai pemkab Bantul men-dirikan pusat perbelanjaan sendiri. Tanpa embel-embel mal. Sebab, mal identik dengan para pemodal besar.

“Entah itu namanya Bantulmart atau Bantul Mikromart,” ucapnya.Sekretaris Bappeda Bantul Agus Budi menyampaikan, pemkab bakal melakukan kajian atas rencana pen-dirian mal dan penambahan kuota toko modern berjejaring.

Baik dari aspek ekonomi, maupun sosial. Meng-ingat, wacana yang dilontarkan bupati semula bertujuan menangkap peluang ekonomi di wilayah perbatasan.

“Ada banyak warga Bantul yang belanja keluar. Ini mau disikapi seperti apa?,” jelasnya.Yang pasti, Gusbud, sapaannya, menegaskan bahwa lokasi pendirian mal maupun toko modern tidak akan melanggar zonasi. (zam/din/ong)