GUNUNGKIDUL – Pantai Selatan kembali mengganas. Di sepanjang pantai Kabupaten Gunungkidul ke-marin (28/), sejumlah wisatawan yang tengah berlibur akhir pekan tergulung ombak.

Amuk Pantai Selatan menyeret para pelancong itu berlangsung di dua wi-layah masing-masing Pantai Drini, dan Pantai Baron.

Libur akhir pekan rom-bongan wisatawan itu nyaris menelan korban jiwa. Beruntung Tim SAR ber-gerak cepat melakukan pertolongan.

Informasi yang dihimpun Radar Jogja, ada empat korban yang berhasil diselamatkan dan mendapatkan pe-rawatan medis puskesmas.

Tiga korban di Pantai Drini meliputi Agung Riska W, 19; Priyambodo, 18, dan Agus Dwi P, 19, semuanya warga Jalan Solo, Km 11 Kalasan, Sleman.

Kemudian korban di Pantai Baron, menimpa karyawan RSJ di Magelang, Sulistyo, 50.Anggota Tim SAR Pantai Drini Su yanto mengatakan, mula-mula kejadian kor-ban bersama pengunjung lain mandi di laut.

Padahal petugas sudah melarang dan disampaikan melalui pengeras suara. Hanya saja, imbauan itu seperti hilang tertiup angin. Mereka berhamburan dan nekat menceburkan diri ke laut.

“Tidak lama berselang kami mendengar teriakan dari wisatawan, ternyata ada yang terseret ombak,” kata Suyanto.

Melihat peristiwa demikian, regu penyelamat bergerak cepat memasti-kan titik akhir korban tergulung ombak. Dengan keahlian yang telah dimilikim, anggota SAR mulai menjalankan misi penyelamatan. Satu per satu korban ditemukan dan berhasil di-evakuasi dalam kondisi selamat.

“Namun untuk korban atas nama Agung Riska sempat pingsan dan shock berat,” ujar anggota SAR Pantai Drini wi-layah Desa Banjarejo, Tanjungsari, yang saat kejadian ikut menyelamatkan para korban.Sementara di Pantai Baron, korban diketahui seorang karyawan RSJ Magelang Sulistyo.

Korban sudah beberapa meter terbawa ombak, namun anggota SAR di lokasi cepat bertindak sehingga berhasil dievakuasi ke daratan.

Terpisah, Koordinator SAR Gunungkidul Marjono menga-takan, kondisi ombak pantai selatan, termasuk di Gunung-kidul tidak menentu. Secara umum terjadi gelombang ting-gi di sepanjang pantai, namun sering juga landai.

Dijelaskan Marjono, peristiwa kecelakaan laut lebih banyak disebabkan karena human eror. Kepedulian wisatawan untuk mematuhi imbauan petugas SAR yang sedang bertugas masih sangat minim.

“Karena mereka beralasan berwisata di pantai untuk man-di di laut. Ini yang repot, karena kondisi ombak sering tidak ber-sahabat,” ujarnya. (gun/laz/ong)