SLEMAN – Jajaran kepolisian Polda DIJ berhasil membongkar prostiusi online yang selama ini beroperasi di wilayah DIJ. Polisi berhasil menangkap dua orang mucikari bernama Eko Subowo,ES, dan Ridwan Hadiyanto,RD.

Informasi yang dihimpun, tersangka menjajakan para pekerja seks komersil (PSK) melalui akun media sosial Facebook (FB). Dari akun keduanya inilah, transksi prostitusi dilakukan oleh para lelaki hidung belang.

Setiap pengguna jasa PSK, harus terlebih dahulu melakukan booking melalui pesan pribadi yang tersedia di aplikasi layanan FB. Sekali transaksi, para mucikari ini mendapatkan bayaran Rp 100 ribu dari setiap PSK.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda DIJ Kombes Pol Antonius Pujianto menjelaskan, keduanya memiliki akun grup sendiri. Setiap PSK, ditawarkan mulai harga Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu dalam sekali main atau shortime.

“Peran mucikari ini yang aktif di FB. Sedangkan para PSK, sebenarnya hanya standby saja,” jelas Antonius dalam keterangan persnya di Polda DIJ kemarin (29/8).

Kedua tersangka, berhasil dibekuk pertengahan Agustus disebuah hotel di Sleman, saat tengah mengantarkan salah seorang PSK. Dalam hotel itu, diamankan seorang PSK berinisial PR usia 20-an dan juga ES.

“Tersangka berhasil kita bekuk setelah petugas mengirimkan pesan inbox dan melakukan penyamaran,” jelasnya.

Dari tangan tersangka, jelasnya, diamankan barang bukti sebuah dompet, sebelas kondom, 2 handpohe dan uang cash Rp 285 ribu.

Menurut perwira dengan melati tiga dipundak ini , tersangka memanfaatkan 4000-an pengikut dari grup yang dibuat kurang lebih setahun lalu. Tersangka mengaku, selama FB itu beroperasi telah menjajakan 10 kali PSK kepada para pengikutnya.

Atas aksi kedua tersangka ini, dikenakan pasal berlapis yakni pasal 296 KUHP tentang perdagangan orang serta Pasal 45 Ayat 1 jo Pasal 27 ayat 1 Undang-udang informasi dan transaksi elektronik (ITE). “Ancamannya paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar,” jelasnya.

Sementara itu Kasubid II Kriminal Khusus AKBP Donny Siswoyo mengungkapkan, pihaknya tengah memonitor akun FB yang diduga digunakan sebagai tempat transaksi prostitusi. Rata-rata, akun-akun tersebut sifatnya tertutup. “Yang kami identifikasi ada 20-an dan saat ini sedang kami dalami,” jelasnya.

Menurut dia, keberadaan prostitusi yang menggunakan media sosial di DIJ sudah cukup marak. Tidak hanya memanfaatkan FB, mereka juga menggunakan medsos lain seperti twitter.

Biasanya, mereka menggunakan akun dengan nama-nama yang cukup unik seperti promo angels maupun bidadari. Di dalam FB itu, ditampilkan gambar wanita-wanita seksi sebagai daya tarik untuk mengajak orang bergabung.

Bahkan, dalam informasi yang tertera dalam akun medsos secara terang-terangan menjajakan PSK dengan berbagai ketentuan. “Tempat eksekusi dan tarif harga sudah dicantumkan secara terang-terangan oleh mucikari. Mereka yang ingin menggunakan jasa PSK bisa mengirim pesan via inbox,” jelasnya. (bhn/ong)