KOMPETISI Honda DBL D.I Jogjakarta Series 2016 memang sudah berakhir. Namun, para jurnalis, baik writer dan fotografer, yang mengikuti salah satu perlombaan yakni Journalist Competition harus mengikuti Journalist Camp yang diadakan di Tempuran Hills, Sabtu (27/8) dan Minggu (28/8). Sebab, di sana mereka mendengarkan pengumuman pemenang dan mendapatkan materi tentang jurnalistik dari tim DBL Jogja.

“DBL itu anak perusahaan Jawa Pos. Sebuah media besar Indonesia. Jadi di Honda DBL juga ada kompetisi jurnalis, yang nanti harapannya juga menjadi salah satu wadah pembinaan minat jurnalistik di kalangan anak muda,” kata Project Officer Ririn Oktaviani.

Dalam acara kemarin, mereka nggak cuma senang-senang aja. Tapi, juga diberi tantangan untuk memecahkan masalah tawuran pelajar yang terkadang masih terjadi di kalangan anak muda di
Jogjakarta. Mereka dibagi dalam kelompok dan harus membuat mind mapping untuk solusi tersebut.

“Asyik banget acaranya, jadi bisa kenal satu sama lain. Kami juga bisa bertukar pikiran antara jurnalis satu sekolah dengan yang lain. Meski pun hujan dan dingin, tapi suasana tetep
hangat,” ungkap Raditya Dimas, fotografer dari SMAN 5 Jogja.

Perjuangan tim jurnalis ternyata nggak segampang yang banyak orang pikirkan. Mereka bahkan sampai capek-capek datang ke GOR UNY setiap hari supaya bisa menulis banyak cerita, dan 
mengabadikan momen lewat mata lensa. Bahkan, ada yang sampai melakukan pendekatan ke tim basket sekolahnya.

“Awalnya ditawarin sama anak basket Stero. Terus langsung mau karena memang hobi nulis. Bahkan sudah sering ngeblog sejak 2011. Aku terus mulai ngikutin perjalanan tim basket,” ujar Vina Kanasya, pemenang kategori Best Writer.

Vina mengatakan, tak cuma waktu DBL saja dia mengikuti tim basket sekolahya, tapi selama mereka latihan. Itu perlu biar bisa membangun chemistry dan mengenal banyak cerita dari anak basket. Jadi enggak kekurangan bahan ketika nanti nulis, terutama juga jadi ngerti sedikit tentang basket,” katanya.

Anak muda saat ini juga menggunakan media sosial sebagai cara mereka menyampaikan sesuatu. Maka di Journalist Competition Honda DBL D.I Jogjakarta Series 2016 terdapat pula
kategori Best Sosial Media, buat mereka yang selalu update di sosial media mereka, terutama Instagram. Penilaiannya mencakup kuantitas upload, kualitas materi yang diunggah, termasuk foto dan caption.

“Tiap hari tak kenal lelah harus ke GOR UNY. Soalnya prinsipku adalah efektivitas upload di Instagram. Aku harus haus bahan. Harus punya banyak materi upload. Jadi harus mau capek, mulai dari pencarian bahan sampai upload,” jelas Andhika Afrizal yang bersama Benedicta Vembrihani memenangkan Best Social Media. Keduanya adalah jurnalis asal SMAN 1 Depok.

Sedangkan First Place Journalist competition diraih oleh duo dari SMAN 1 Jogja, yakni Damar Rizky dan Annis Rahmi. Mereka punya prinsip, jangan takut kehilangan momen.

“Aku sebagai fotografer, jadi harus dapet momen bagus. Tapi itu juga untung-untungan. Yang pasti buat kami berdua, jangan pernah takut buat meninggalkan tempat untuk salat. Karena ibadah itu kewajiban, dan serahin saja ke Allah. Nanti pasti ada momen lagi dan syukur beneran dapat momen,” tutur Damar.

Jadi, rangkaian acara Honda DBL D.I Jogjakarta Series 2016 benar-benar sudah selesai. Sampai jumpa tahun depan. Siapkan dirimu, bukan cuma tim basket dan tim dance saja, tapi buat seluruh warga sekolah. Karena DBL adalah pesta positif seluruh anak muda. Bye-bye. (ata/ila/ong)