SLEMAN – Jajaran kepolisian Polda DIJ berhasil membongkar prostiusi online yang selama ini beroperasi di wilayah DIJ. Polisi berhasil menangkap dua orang mucikari bernama Eko Subowo (ES) warga Sleman, DIJ dan Ridwan Hadiyanto (RD), warga Klaten, Jawa Tengah.

Informasi yang dihimpun, tersangka menjajakan para pekerja seks komersial (PSK) melalui akun media sosial (medsos) yakni Facebook (FB). Dari akun FB kedua tersangka inilah, transaksi prostitusi dilakukan oleh para lelaki hidung belang.

Setiap pengguna jasa PSK, harus terlebih dahulu melakukan booking melalui pesan pribadi yang tersedia di aplikasi layanan FB. Sekali transaksi, para mucikari ini mendapatkan bayaran Rp 100 ribu dari setiap PSK.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda DIJ Kombes Pol Antonius Pujianto menjelaskan, keduanya memiliki akun grup sendiri. Setiap PSK ditawarkan mulai harga Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu dalam sekali main atau short time.

“Peran mucikari ini yang aktif di FB. Sedangkan para PSK, sebenarnya hanya standby saja,” jelas Antonius dalam keterangan persnya di Polda DIJ, kemarin (29/8).

Antonius menjelaskan, terbongkarnya komplotan PSK online tersebut setelah anggotanya menggelar Operasi Maya Progo yang digelar 27 Juli sampai 15 Agustus 2016 lalu.

Melalui patroli cyber yang dilakukan, ditemukan banyak grup FB yang bersifat rahasia. Setelah didalami, ternyata ada grup yang menawarkan jasa prostitusi. “Ready 500×1, include room, wajib caps, main santai, minat inbox. Begitu bunyi iklan tersebut,” ujarnya.

Setelah itu, petugas melakukan penyamaran sebagai pemesan. Kedua tersangka, akhirnya berhasil dibekuk pertengahan Agustus lalu di sebuah hotel di Sleman. Tersangka saat itu tengah mengantarkan salah seorang PSK. Di dalam hotel itu, juga diamankan seorang PSK berinisial PR berusia 20 tahun.

“Tersangka berhasil kami bekuk setelah petugas mengirimkan pesan inbox dan melakukan penyamaran,” tandasnya.

Dari tersangka ES, lanjutnya, petugas mengamankan sebuah tas, dua buah ponsel, sebelas kondom, tiga buah KTP dan uang Rp 262 ribu. Sedangkan dari tersangka RD yang menjajakan PSK berinisial VV dan EM turut disita tiga buah ponsel, uang Rp 350 ribu, dan 20 kondom.

Menurut perwira dengan melati tiga dipundak ini, tersangka memanfaatkan 4.000-an followers dari grup yang dibuat kurang lebih setahun lalu. Tersangka mengaku, selama FB itu beroperasi telah menjajakan sepuluh kali PSK kepada para followers-nya.

“Keduanya memiliki PSK yang dijajakannya, masing-masing mencapai lima orang. Tiap PSK juga dibuatkan akun FB yang dioperasikan oleh tersangka. Mereka menawarkan PSK tersebut di grup-grup rahasia itu,” ungkapnya.

Atas aksinya, keduanya dikenai pasal berlapis yakni pasal 296 KUHP tentang Perdagangan Orang serta Pasal 45 Ayat 1 jo Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). “Ancamannya paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubdit II Kriminal Khusus AKBP Donny Siswoyo mengungkapkan, pihaknya tengah memonitor akun FB yang diduga digunakan sebagai tempat transaksi prostitusi. Rata-rata, akun-akun tersebut sifatnya tertutup. “Yang kami identifikasi ada 20-an dan saat ini sedang kami dalami,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan prostitusi yang menggunakan medsos di DIJ sudah cukup marak. Tidak hanya memanfaatkan FB, mereka juga menggunakan medsos lain seperti Twitter.

Biasanya, mereka menggunakan akun dengan nama-nama yang cukup unik seperti promo angels maupun bidadari. Di dalam FB itu, ditampilkan gambar perempuan dengan busana seksi sebagai daya tarik untuk mengajak orang bergabung.

Bahkan, dalam informasi yang tertera dalam akun medsos secara terang-terangan menjajakan PSK dengan berbagai ketentuan. Tempat eksekusi dan tarif harga sudah dicantumkan secara terang-terangan oleh mucikari. Mereka yang ingin menggunakan jasa PSK bisa mengirim pesan via inbox. “Usia penjaja seks tersebut berkisar 25 hingga 30 tahun,” ujarnya. (bhn/riz/ila/ong)