JOGJA – Penataan sisi selatan Stasiun Tugu terus berlanjut. PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daops) VI akan memulai September ini. Pedagang yang menempati kios-kios di sisi selatan stasiun cagar budaya itu akan direlokasi.

“Kalau lokasinya mana, masih kami bicarakan dengan Panitikismo (Keraton). Kalau tidak ada tempat dari Panitikismo, kami akan siapkan lahan pengganti,” ujar Executive Vice President PT KAI Daops VI Jogjakarta Hendy Helmi, kemarin (29/8).

Hendy menjelaskan, PT KAI sebenarnya tak memiliki lahan. Sebab, tanah yang digunakan untuk Stasiun Tugu ini milik Keraton. “Makanya, kami sudah berkoordinasi dengan Gusti Hadi (KGPH Hadiwinoto, Penghageng Tepas Panitikismo) untuk mencari lahan pengganti bagi pedagang,” jelasnya.

Tapi, sampai jelang penataan pedagang di pinggir Jalan Pasar Kembang tersebut, belum ada lahan alternatif. PT KAI pun menyiapkan lahan di samping Stasiun Tugu untuk bisa digunakan pedagang. “Sistemnya nanti sewa lahan dengan durasi lama,” katanya.

Lahan pertokoan tersebut, kata dia, akan diprioritaskan bagi pedagang sisi selatan stasiun yang menjadi korban penggusuran. Mereka kemudian akan ditata untuk dipindahkan ke lahan baru dengan durasi sampai 30 tahun.

Sebagai langkah awal, September ini pihaknya akan mulai memindahkan pedagang. Nantinya, setelah pedagang di sisi selatan itu pindah, PT KAI akan membangunkan kios di samping stasiun yang akan digunakan pedagang. “Untuk kios tetap harus dibongkar. Karena konsepnya untuk pedestrian,” lanjutnya.

Penataan Stasiun Tugu ini tak hanya membangun pedestrian saja. Rencananya, PT KAI membangun secara menyeluruh Stasiun Tugu lengkap dengan semua fasilitas sebagai syarat stasiun modern.

Pembangunan tersebut akan membutuhkan waktu sampai 2019. Sampai dengan Januari mendatang, PT KAI akan menandatangani nota kesepahaman dengan investor lokal yang akan membiayai pembangunan kawasan stasiun seluas 20 hektare tersebut.

Menanggapi rencana penataan yang mulai September ini, Wali Kota Haryadi Suyuti menegaskan, pihaknya sudah bersepakat untuk menata pedagang. Pemkot Jogja dan PT KAI hanya akan memindahkan pedagang. Bukan konsep menggusur pedagang. “Jadi pembangunan kawasan Stasiun Tugu nggak setengah-setengah,” jelas HS, sapaannya.

HS mengatakan, saat ini, pihaknya dengan PT KAI sedang mencari solusi lahan pengganti. Sebab, dari hasil pertemuan kedua antara pemkot dengan PT KAI belum ada lahan alternatif bagi pedagang. “Yang jelas, Pemkot Jogja dan PT KAI sudah setuju bahwa pedagang hanya akan ditata,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, pihaknya juga masih mencari lahan pengganti untuk kompleks perkantoran Kecamatan Gedongtengan, Koramil, dan Polsek. Ketiga perkantoran itu akan ikut digusur seiring penataan Stasiun Tugu. “Kami sepakati hanya akan menggusur kemiskinan, bukan menggusur orang. Sekarang masih kami cari solusinya,” jamin HS. (eri/ila/ong)