BANTUL – Pentas Paguyuban Teater Bantul (PBT) di Pendopo Kabupaten Puroloyo Jogjakarta, Sabtu-Minggu (27-28 Agustus) menjadi tonggak sejarah bagi pelestari pertunjukan kesenian modern di Bumi Projotamansari. Hal itu menjadi momen kebangkitan beberapa sanggar teater di Bantul yang selama ini mati suri.

Ketua PTB Bantul Suryo Putro Nugroho mengatakan, pertunjukan teater pernah mengalami masa kejayaan di era 1986-1994. Hampir setiap kecamatan di Bantul memiliki sanggar. Bahkan, sempat terbentuk kelompok arisan yang melibatkan seluruh sanggar. “Yang dapat giliran arisan menjadi tuan rumah untuk pentas,” jelas Suryo di sela acara.

Unang Shio Peking, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa semangat yang diusung seluruh sanggar ketika itu murni karena idealisme. Lambat laun perjalanan sanggar tersendat karena keterbatasan anggaran. “1994 sampai pertengahan 2015 ada kevakuman,” ucapnya.

Unang meyebut hanya ada 4 sanggar teater yang masih aktif saat ini. Sepuluh sanggar lain terdeteksi mati suri, namun masih ada rekam jejaknya. Nah, dengan lahirnya dana keistimewaan (danais) PTB berharap proses kreatif sanggar-sanggar ini kembali bangkit. “Karena sudah ada keberpihakan anggaran,” tuturnya.

Ada sejumlah strategi yang dipersiapkan PTB dengan dukungan anggaran ini. Unang mendorong seluruh sanggar teater mati suri segera mengidentifikasi seluruh aktor yang masih tersisa. Sekaligus menata ulang struktur organisasinya.
”Kami juga akan mendorong proses regenerasi,” tambahnya.

Ke depan, Unang berencana menyusun konsep pementasan seperti era 1980-1990-an. Unang juga akan menghidupkan kembali arisan antarsanggar teater. Prioritas pementasan teater dan sarasehan budaya di perkampungan. Adapun, kelompok yang siap unjuk gigi adalah Teater Payung dengan cerita “Bentuk Tak Berbentuk”. Lalu, Komunitas Tebu yang mengusung lakon “Nguyak Setan”, dan Komunitas Sego Gurih dengan cerita “Pogeng”.(zam/yog/ong)