JOGJA – Saat bertemu keluarga yang saya cintai, saya hanya bisa memberikan pelukan yang erat dan senyuman yang begitu lebar.

Namun di balik senyuman itu, tersembunyi kesedihan, KAPAN, kapan saya bisa bersama keluarga yang selama ini saya rindukan dan nanti-nantikan
Rasa rindu untuk negara….yang sudah lama saya tinggal, rindu yang sudah lama menghantui setiap hariku. Saya sangat merindukan KELUARGA. Barisan kata-kata itu adalah karya Mary Jane Fiesta Veloso. Warga Binaan Lembaga Perma-syarakatan (Lapas) Wirogunan ini terlihat tegar ketika menyusun kalimat ini, Selasa (30/8) lalu. Curahan hati ini, dia beri judul Momen Bertemu Keluarga.

Tidak butuh waktu lama bagi ibu dua orang anak ini menyusun kata-kata. Sesaat sebelumnya dia hanya membaca-baca tabloid dan majalah. Selanjutnya dengan cekatan dia memotong bebera-pa kata untuk dirangkai men-jadi sebuah karya tulis.

“Isi dalam karya ini menggambarkan cura-han hati (curhat) saya sekarang seperti apa,” ujarnya singkat.

Tidak banyak kata yang terlontar dari mulut Mary Jane. Wajar saja, perempuan yang fasih berbahasa Indonesia ini memang mendapat perlakuan khusus. Apalagi kasus yang menimpanya cukup pelik, penyelundupan narkoba dengan vonis hukuman mati.

Karya Mary Jane memiliki nilai artistik yang apik. Untuk curahan hati, perempuan asal Filipina ini menulis dengan tangan. Judul karyanya ini ber-asal dari potongan judul sebuah tabloid. Masih ditambah dengan coretan gambar, keluarga, dan anak-anaknya.

“Tapi, saya senang bisa ikut lokakarya Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ini,” katanya.

Mary Jane tidak sendiri, dalam kesempatan ini ada 118 warga bi-naan perempuan yang ikut serta. Kegiatan ini sendiri merupakan salah satu program Pameran Perupa Muda (Paperu) FKY 28.

Dibalut dalam sebuah loka karya yang berjudul Kepada Kebebasan Kami Merayakan Kerinduan. Mengajak seluruh warga binaan lapas kelas II ini berkreasi dalam sebuah zine atau fanzine (media cetak alternatif biasanya diterbitkan secara personal atau kelompok kecil, Red). Ini meru-pakan majalah dengan format yang sangat sederhana.

Mereka menuliskan curahan hati selama menjadi warga binaan.Salah satunya adalah Hanik yang menuliskan puisi berjudul Kangen. Melalui karyanya pe-rempuan berusia 43 tahun ini mencurahkan rasa kangennya. Terutama kepada dua orang anak dan suaminya yang menunggu di rumah.

“Meski setiap minggu selalu dijenguk anak, tapi tetap ada rasa kangen. Saya di sini divonis menjalani hukuman selama 1,5 tahun. Sekarang sudah empat bulan menjadi warga binaan di Lapas Wirogunan,” jelasnya.

Dia juga sempat bercerita tentang pengalamannya kepada Radar Jogja. Menurutnya, bayangan negatif masyarakat tentang kondisi lapas salah. Di tempat ini dia justru mendapatkan pembinaan dan pencerahaan.

Selain merenungi kesalahan, Hanik juga dibekali beberapa keterampilan. Pembekalan ini tak hanya melibatkan pegawai Lapas, tapi juga masyarakat umum. Sama seperti kemarin, dia mendapatkan ilmu cara membuat sebuah jurnal pribadi.

Warga binaan lain yang sangat antusias mengikuti lokakarya ini adalah Sita Erni. Perempuan berusia 53 tahun ini merangkai sebuah curahan hati tentang pasangannya. Tersipu malu, dirinya menamai karyanya Terluka.

“Bercerita tentang teman dekat yang digodain perempuan lain. Saya senang kalau ada kunjungan seperti ini. Bisa berinteraksi dan tidak ada sekat pembeda dengan warga lainnya,” katanya.

Sementara itu, dalam menggarap zine, mereka tak sendiri. Ada beberapa pemuda yang tergabung dalam Garda Blakang Koridor yang turut membantu mereka. Para pemuda ini merupakan seniman dan akademisi yang menimba ilmu di Jogjakarta.

Koordinator lokakarya Awalud-din Mualif mengungkapkan, karya-karya ini akan diabadikan. Rencananya kumpulan karya diabadikan dalam sebuah buku.

“Patut diabadikan dalam buku. Karya-karya yang dihasilkan sangatlah jujur dan mendalam. Orang yang membacanya pasti bisa merasakan apa yang ditu-liskan. Target, semoga sebelum FKY 28 rampung bisa selesai,” kata pria yang akrab disapa Cak Udin ini.

Kepala Seksi Pembinaan Nara-pida Lapas Wirogunan Jogjakarta Hariyanto berharap kegiatan ini dapat memicu gerakan lokakarya lainnya. Apalagi mampu mem-berdayakan warga binaan dengan kemampuan kreatif.

Menurutnya proses transfer ilmu ini dapat menjadi bekal bagi semua warga binaan. Secara psikologis warga merasa dianggap karena tidak ada pem-beda. Dari segi ekonomi, bekal ini dapat menambah pengeta-huan untuk membuka wirau-saha. (dwi/ila/ong)