On the Origin of Fear Karya Bayu Prihantoro Tembus Venice Film Festival

Film karya anak bangsa On the Origin of Fear masuk dalam festival f lm tertua di dunia, Venice International Film Festival ke-73 di Italia. Sutradara f lm tersebut merupakan pemuda asal Magelang. Dia adalah Bayu Prihantoro Filemon, warga Villa Metro Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Siapakah dia dan bagaimana kiprahnya?
ADI DAYA PERDANA, Mungkid
BAYU merupakan putra sulung dari pasangan Marji-nungroho, 57, dan Fernanda Supiah, 54. Pria 31 tahun itu mampu mengharumkan nama daerah, bahkan mengharumkan nama bangsa setelah hasil karyanya mendunia. Pembuat film On the Origin of Fear ini na-manya melambung setelah karyanya bersaing dengan film lain dari belahan dunia
Karyanya berhasil masuk dalam kompetisi program Orizzonti Venice International Film Fes-tival ke-73. Festival ini berlang-sung dari 31 Agustus-10 September mendatang. Film berdurasi 12 menit ini menceritakan rasa sakit, loyalitas, pengkhia-natan, drama, dan teror.

Bayu mengungkapkan, ide film ini, awalnya dari sebuah trauma pribadi yang dialaminya saat anak-anak. Ketika film G30 S/PKI yang terus menerus ditayang-kan setiap 30 September harus disaksikan oleh seluruh ma-syarakat di masa orde baru, ter-masuk dirinya. Melalui karyanya ini, dia ingin membahas bagian sejarah yang selama ini kabur.

“Saya berharap, generasi muda masa kini berbesar hati menerima fakta. Bahwa pada masa lalu Indo-nesia punya periode sejarah ke-lam,” kata sutradara film Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lain-nya ini, kemarin (30/8).

Dia mengatakan, sebagai ge-nerasi yang lahir pada tahun 1980-an, dia menjadi saksi episode fiksi yang paling sempurna atas sejarah bangsa dalam wajah sinema Indonesia. Dia menjadi saksi bagaimana peristiwa 1965 versi sejarah dimana negara di-bangun melalui reproduksi teror.

“Film ini merupakan sebuah upaya untuk melawan rasa trauma,” tandasnya.

Pria berambut gondrong itu mengaku bangga karyanya bisa masuk ke ranah internasional. Terpenting dia bisa ikuti andil dalam festival film dunia. Ter-lebih lagi di Italia. Dia berharap nantinya film karyanya menda-patkan apresiasi yang baik.

“Kami nggak berpikir menang kalah. Yang pasti bangga bisa masuk kompetisi karena film Indonesia jarang yang masuk ke sana,” kata pria yang lahir pada 21 Maret 1985 itu.

Sementara itu, sebagai orang tua, Marjinugroho mengaku bangga atas prestasi anaknya. Dia merasa keikutsertaan Bayu di Venice International Film Festival sangat istimewa.

Sebab, festival itu sangat bergengsi. Apalagi program Orizzonti merupakan kompetisi bagi film-film yang mampu menghadirkan estetika dan ekspresi baru.

“Bayu memang sering ikut festival film di luar negeri, seperti Jepang, Swedia, Prancis, Jerman, dan lainnya,” katanya.

PNS di Pemkot Magelang ini menjelaskan, Bayu merupakan anak yang kreatif sejak kecil. Di masa anak-anak, Bayu sering diajaknya berkeliling Klaten untuk sosialisasi keluarga be-rencana (KB). Saat itu sang bapak menjadi petugas penyuluh lapangan (PPL) KB yang peker-jaannya selalu memutar film di setiap penyuluhan.

Diakuinya, salah satu film yang ditonton adalah G30 S/PKI. Dia sendiri juga tidak tahu kalau film itu ternyata membekas diingatan sang anak. Bahkan mendasari pembuatan film On the Origin of Fear ini.

Setelah lulus kuliah di Atmajaya Jogjakarta jurusan Komunikasi, Bayu kemudian menjadi Dosen Film dan Tele-visi di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong.

“Mudah-mudahan nanti meraih pre-stasi,” harapnya. (ila/ga/ong)