JOGJA – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi menilai hubungan bilateral antara Indonesia dengan Australia bisa lebih dikembangkan. Banyak potensi kerja sama yang belum digarap dengan baik.

“Indonesia punya banyak po-tensi yang bisa dikembangkan, namun masih ada banyak tan-tangan dan hambatan,” ujar Retno dalam pembukaan dialog Indonesia-Australia III di Jogja, kemarin (30/8).

Retno mengatakan, sebenarnya komunikasi dan dialog diantara dua negara telah terjalin cukup baik, tapi belum maksimal. Alumni UGM itu mencontohkan minimnya jumlah pelajar Australia yang menuntut ilmu ke Indonesia.

Padahal pada saat yang sama kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia sudah banyak. Terlebih juga sudah terdapat Colombo Plan yakni memberi kesempatan pelajar Australia untuk belajar di Asia. “Pelajar Australia yang belajar ke Indonesia masih sedikit,” tandasnya.

Selain itu juga kurangnya per-hatian pada kerja sama bidang maritim di kawasan perairan Samudra Hindia yang memisa-hkan kedua negara. Mantan Dubes RI untuk Belanda itu menilai seharusnya Indonesia dan Australia bisa menjadi pe-mimpin di Pasifik Selatan.

” Maka dibutuhkan komitment kerja sama yang konkret diantara kedua negara ini,” tuturnya.

Sementara itu, Mantan Wakil Perdana Menteri Australia John Anderson berharap setiap dialog yang dibangun antar dua ne-gara agar difokuskan untuk me-minimalisasi segala sesuatu yang berpotensi merusak hubungan. Dia juga berharap dialog itu mampu menghasilkan gagasan-gagasan baru dalam konteks penguatan hubungan Indonesia-Australia.

“Peningkatan pemahaman itu penting ditanamkan untuk kalangan generasi muda Indo-nesia dan Australia sebagai penerus,” katanya. (pra/ila/ong)