Dianggap Tak Populer, Susah Cari Bibit-Bibit Pegulat

Sejak penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 1993, pegulat-pegulat DIJ absen mengisi kekuatan kontingen. Butuh waktu lebih dari 20 tahun bagi beladiri ini menemukan bakat-bakat pegulat potensial. Proses panjang tersebut akhirnya berbuah manis, tiga pegulat DIJ akhirnya meraih tiket ke PON 2016 lewat Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pra-PON akhir tahun lalu di Malang, Jawa Timur.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
SEBUAH prestasi dan kebanggan tersendiri bagi atlet bisa menjadi wakil daerah untuk berlaga di ajang kejuaraan PON 2016. Inilah yang dirasa segenap atlet, pengurus, dan insan olahraga gulat di Jogjakarta. Penantian panjang, melewati enam kali penyelenggaraan PON akhirnya pegulat DIJ dapat tampil kembali di ajang multievent nasional terbesar di tanah air ini.

Pelatih Gulat DIJ Andri Febri Prasetio mengungkapkan, dalam perkembangannya, gulat menjadi olahraga yang tidak sepopuler beladiri lainnya. Dibanding olarhaga beladiri lain, seperti judo, taekwondo, karate, dan kempo, lanjut Andri, gulat kalah populer. Inilah yang kemudian menyulitkan organisasi untuk mencari bibit-bibit baru yang potensial untuk dibina menjadi atlet.

“Gulat menjadi olahraga yang berat dalam hal bersaing dan berlatih,” ujarnya di sasana latihan gulat di kawasan Monumen Jogja Kembali.

Namun, Pengurus Daerah (Pengda) Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) DIJ tidak menyerah begitu saja. Di tingkat kabupaten dan kota, pembinaan atlet-atlet gulat terus dijalankan. Alhasil, tiga pegulat dari Bantul, Kulonprogo, dan Sleman berhasil mencuri tiket ke PON XIX yang akan berlangsung 17 September di Jawa Barat.

Tiga atlet tersebut yakni, Ibnu Pandu S di kelas gaya Greco 130 kg, Thezar Randika F di kelas 70 kg gaya bebas, dan satu pegulat putri Aflaharani Uhacham yang turun di kelas 60 kg gaya bebas putri. “Ya mereka lolos. Meski belum masuk kriteria KONI DIJ yakni empat besar, karena mereka hanya lolos di peringkat lima dan enam. Jadi untuk persiapan ya mandiri,” ungkapnya.

Meski sudah berbekal tiket, hal itu belum membuat para pegulat bisa bernapas lega. Kerikil-kerikil kecil harus mereka alami. Ketiga atlet ini berasal dari daerah yang berbeda. Sehingga terpaksa harus berlatih secara terpisah dan mandiri.

Mereka berlatih di sasana komunitasnya masing-masing. Latihan terpusat hanya bisa diupayakan seminggu empat kali, itupun dengan waktu yang terbatas. Jika idealnya latihan 18 hingga 20 jam per minggu, tiga pegulat ini optimal hanya bisa berlatih 8 jam per minggu. Ditambah 2 jam di tempat masing-masing.

Belum idealnya jam latihan, ditambah dengan kesibukan pekerjaan dan kuliah para pegulat juga jadi persoalan dalam persiapan jelang PON 2016 ini. “Persiapan memang belum bisa maksimal, karena latihan terpusat hanya bisa dilakukan empat kali dalam seminggu. Itupun kami adakan secara mandiri,” ujarnya.

Namun, semangat berlatih tiga pegulat DIJ ini tetap berkobar. Di saat agenda latihan bersama tiba, ketiganya memaksimalkan tenaga untuk berlatih. Meski dengan sarana latihan yang ala kadarnya, mereka tetap optimistis dapat berlaga dengan maksimal. Terlebih teman-teman dari cabang beladiri lain, seperti Brazilian Jusitsu yang berlatih dalam sasana yang sama, turut memberikan dukungan.

Saat ini, tim pelatih fokus memperbaiki teknik dasar, seperti bantingan, kuncian, dan ambilan kaki untuk kelas gaya bebas. “Melihat potensi dan lawan, target realistis kami minimal perunggu dari kelas yang akan diikuti Ibnu. Prinsip kami, berlatih sebisa mungkin jangan sampai cedera,” ujar Andri. (ila/ong)