PURWOREJO – Pemilik usaha toko kelontong masih terjebak pola usaha keluarga. Uang sering terpakai untuk kegiatan rumah tangga, akibatnya modal menjadi hilang atau habis. Permasalahan lain yang mendera bakul cilik adalah menempatkan dagangan seenaknya dan mengabaikan beberapa aspek. Misalnya menempatkan obat nyamuk dengan jenis penganan tertentu.

“Sebenarnya semua bisa menjadi pengusaha, tapi harus disiplin pada diri sendiri,” kata Regional Corporate Comunication Manajer PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) Firly Firlandi di sela pelatihan manajemen ritel modern yang digelar di Aula Hotel Plaza Purworejo, kemarin (31/8).

Dikatakan Firly, pemilik usaha harus menempatkan uang warung pada tempatnya dan baru menyisihkannya dengan perhitungan tertentu. Dengan demikian ada manajemen terpisah antara warung dan rumah. “Bukan berarti kita tidak boleh menggunakan uang warung, tapi gunakan seperlunya dan dalam kontrol,” tambahnya.

Menurut Firly, sebagai perusahaan ritel besar, Alfamart memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendampingan terhadap usaha kecil. Di Purworejo sendiri pihaknya memiliki sekitar 400 warung yang selalu mendapatkan pendampingan.

“Kami memiliki tanggung jawab kepada mereka. Dan yang kami dampingi itu tidak harus mengambil barang dari kami. Di sini kami hanya memberikan sedikit pemahaman tentang display dan cara menentukan harga yang baik untuk pembeli,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Koperasi Perdagangan Perindustrian dan Pariwisata Purworejo Suhartini meminta, sebagai perusahaan ritel besar Alfamart jangan menindas keberadaan warung-warung kecil. Karena masyarakat kecil juga membutuhkan ruang untuk bergerak mendapatkan penghasilan.

“Kegiatan pelatihan ini sangat menarik. Alfamart tidak sekadar mencari untung, tapi juga memberikan pengalaman modern mereka kepada pedagang yang selama ini masih banyak yang menggunakan konsep tradisional dalam berjualan,” ungkap Suhartini. (udi/laz/ong)