SLEMAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ merinis kampung tangguh bencana di sekitar reaktor nuklir milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Keberadaan reaktor nuklir di kawasan padat penduduk menjadi alasannya. Selain itu, kompleks Batan di Babarsari, Caturtunggal, Depok merupakan kawasan pendidikan dengan banyak kampus. Dihuni sekitar 185 ribu penduduk.

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Krido Suprayitno mengatakan, masyarakat tangguh bencana tak lagi spesifik menghadapi gejolak alam. Lebih dari itu, kesiapan menghadapi bencana kegagalan teknologi. Terlebih, jarak reaktor nuklir dengan permukiman penduduk sangat dekat. “Sesuai prosedur, jarak aman reaktor dengan permukiman seharusnya sekitar 200 meter,” katanya kemarin (31/8).

Instalasi Batan DIJ memang dibangun sesuai standar keselamatan dan operasional. Berikut rencana kontijensinya. Namun, Krido menilai upaya edukasi mitigasi bencana kegagalan teknologi perlu diterapkan. Apalagi, penanganan kedaruratan akibat kegagalan teknologi membutuhkan penanganan lebih spesifik. Itulah yang menjadi alasan Krido membangun kampung tangguh bencana perkotaan di lingkungan Batan.

Pihak yang turut dilibatkan, di antaranya, BPBD Sleman, Kodim, Polres, dan masyarakat untuk latihan mitigasi bencana. Adapun rangkaian pelatihan meliputi: Table Top Exercise (TTX), Command Post Exercise (CPX), Field Training Exercise (FTX), hingga After Action Review (AAR).

Table Top digelar kemarin. Melibatkan 150 personel. Hasil diskusi digunakan sebagai masukan dalam penyusunan materi gladi posko. Gladi lapang simulasi penanganan bencana direncanakan melibatkan 500 personel.

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator BATAN Susilo Widodo mengklaim, di antara sekian banyak potensi bencana teknologi, nuklir memiliki risiko paling kecil. “Potensi bencana nuklir di DIJ mendekati nol persen,” ujarnya.

Cungkup luar Reaktor Nuklir Kartini yang dibangun 1979 telah ditebalkan guna meningkatkan ketahanan konstruksi terhadap gempa.

“Yang dilakukan di sini masih sebatas ilmu dasar. Belum skala produksi dan pabrik. Ukuran kapasitas reaktornya pun kecil. Hanya 100 kilowatt. Kalau terjadi kegagalan (kebocoran reaktor) radius paparan radioaktifnya efektif hanya sekitar 50 meter,” paparnya. (bhn/yog/ong)