GUNUNGKIDUL – Keindahan alam Gunungkidul terbukti mampu dijual dan berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Hanya saja, strategi membangun wisata melalui media sosial (medsos) harus mengedepankan kejujuran.

Misalnya, pelaku wisata mengenalkan destinasi wisata ke medsos seperti facebook, instagram, website maupun twitter. Promosi ke dunia maya memang menjadi cara termudah untuk memublikasikan tempat wisata.

Dari akun-akun yang dimiliki, pengelola wisata menawarkan potensi yang dimiliki secara terbuka. Namun, memposting gambar atau tulisan ke media sosial jangan asal-asalan.

“Hati-hati, hanya karena ingin terlihat menarik, lalu terjadi pembohohan public. Misalnya, mengunggah foto hasil editan, tidak sesuai kenyataan,” kata Kepala Pengembangan Produk Wisata Disbudpar Gunungkidul, Hary Sukmono.

Dia tidak tahu apa kasus demikian pernah terjadi di Gunungkidul. Hary mengingatkan agar pelaku wisata berpromosi sesuai realita.

“Anda bisa bayangkan, pengunjung kecewa karena destinasi wisata yang dipublikasikan tidak sesuai kenyataan. Apa mereka mau datang lagi?” kata Hary.

Dia mengimbau pelaku wisata bermain cantik. Mengedepankan kejujuran, karena pengunjung tidak hanya takjub dengan keindahan destinasi namun juga mempunyai penilaian lain.

“Bisa dari faktor pelayanan, kebersihan lingkungan, keramahan penduduk lokal dan yang lainnya,” kata Hary.

Promosi di media sosial menjadi bagian dari strategi membangun pariwisata. Namun membangun wisata juga membangun citra, maka diharapkan pengelola wisata yang membangun jaringan di dunia maya menyampaikan sesuai dengan realita.

September ini akan digelar festival Geopark Gunungsewu. Bentuknya bermacam-macam dan tidak terkonsentrasi di satu titik. “Ada lomba foto, jelajah di Ngingrong dan seminar,” kata Hary. (gun/iwa/ong)