ADA banyak tim basket yang memiliki skill bagus, atau berisi pemain-pemain yang mampu menjadi first team bahkan most valuable player (MVP) di berbagai ajang basket SMA. Namun hanya beberapa, bahkan hampir tidak ada, selain SMA Stella Duce 2 Jogja (Stero) yang punya laporan khusus atau rapor perkembangan kemampuan setiap anggota tim basket dengan rinci.

Itulah salah satu produk buatan Coach First Team Putri Honda DBL 2016, Merari Puay. Langkahnya dengan Stero memang terhenti di big eight. Tapi enam tahun berada di Stero, Merari punya banyak pencapaian lain yang patut diapresiasi.

‘’Saya baru melatih sekitar 2009, saat itu masih pegang salah satu SMA di Wates, Kulonprogo. Baru pada 2012 menjadi arsitek untuk Stero,” cerita awal karir Merari.

Dirinya terhitung otodidak, karena sama sekali enggak punya basic di dunia basket. Tapi dirinya enggak minder, semua ilmu yang didapatkan sekarang adalah hasil dari banyak bertanya, dan enggak males untuk melihat latihan tim lain.

‘’Ilmu saya dapetin dari ngobrol banyak sama pelatih lain yang udah lebih berpengalaman. Kalo enggak ya saya dateng ke latihan kejurnas untuk lihat pola apa yang di-share pelatih tersebut, semua saya tampung, guna memperkaya ilmu saya. Lalu juga berkunjung ke perpustakaan Kulonprogo, dan dapet buku bacaan tentang fundamental basket,” jelas pelatih kelahiran 4 juni 1988 tersebut.

Selain membaca dan banyak ngobrol dengan pelatih lain, Merari bahkan sampai bertukar email dengan pelatih dari negeri Paman Sam. Dia juga rajin melihat Youtube untuk meng-upgrade ilmu. Menjadi nahkoda untuk tim putri tidak mudah. Tapi Merari punya beberapa tips.

‘’Awalnya yang bikin semangat membangun tim karena saya merasa di Stero kekeluargaannya sangat kuat. Mulai dari itu dulu. Lalu berikutnya kalo sama tim cewek saya selalu menempatkan mereka sebagai atlet. Mereka bukan seorang perempuan atau laki-laki. Tapi mereka, dengan gender apapun adalah atlet,” ungkapnya.

Merari mengungkapkan tim cewek memang rentan konflik berkepanjangan. Enggak seperti membawahi tim putra. Jika ada konflik, tim cowok lebih cepat menyelesaikannya. Tapi tim cewek kadang berlarut. Maka dia punya aturan, jika ada masalah, harus selesai di lapangan saat itu juga. Sehingga selesai latihan mereka sudah kembali menjadi sahabat.

‘’Selain itu saya berusaha menghilangkan senioritas yang ada. Dengan cara menghilangkan panggilan kak atau mbak ketika latihan basket. Ternyata dampaknya besar, tim lebih solid, karena enggak ada batesan antar angkatan,” ucap Merari.

Berangkat ke Surabaya, Jumat pagi (2/9) besok untuk mengikuti DBL Camp 2016, membuat Merari bangga namun juga menjadi tugas tanggung jawab untuknya. ‘’Saya harus banyak dapet ilmu di DBL Camp nanti. Tapi itu semua karena dukungan dari keluarga Stero. Maka sepulangnya dari sana, saya harus punya banyak ilmu yang tentu berguna juga untuk membangun tim basket Stero,” harap Merari. (ata/iwa/ong)