Ingin Bantu Lestarikan dan Kenalkan ke Penjuru Dunia

Tidak banyak yang tahu tentang kesenian wayang beber. Namun, dua mahasiswi lulusan Universitas Zagreb, Kroasia justru tertarik untuk mengulasnya. Mereka adalah Tea Škrinjarić, 26, dan Marina Pretković, 28. Keduanya melakukan penelitian dan berkeinginan untuk membantu melestarikan wayang beber.
VITA WAHYU HARYANTI, Jogja
BERAWAL dari kedatangannya ke Indonesia pada 2013 silam. Keduanya kala itu menyaksikan pertunjukan wayang beber di Kedompol, Donorojo, Pacitan, Jawa Timur. Tea mulai tertarik untuk melakukan penelitiannya tentang kesenian yang sudah jarang diketahui banyak orang tersebut.

Wayang beber sendiri adalah warisan dari zaman Majapahit. Wayang yang dilukis di atas kertas tersebut harus digelar (Jawa: dibeber) saat pertunjukan berlangsung dan digulung kembali saat pertunjukan selesai. Saat itu wayang beber masih mendominasi cerita wayang purwa.

Selama di Kroasia mereka sudah membaca sedikit banyak tentang sejarah wayang beber. Dia juga sudah mencoba untuk menghubungi pihak-pihak yang dapat membantunya untuk melakukan penelitian tersebut di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret Solo, Tea dan Marina memulai penelitian sejak dua tahun yang lalu.

“Ini adalah penelitian independen kami setelah menyelesaikan sekolah S2 di Universitas Zagreb,” jelas Tea.

Tea adalah lulusan Master Antropologi Sosial dan Budaya, sedangkan Marina lulusan Master Antropologi Seni dan Budaya. Mereka mengakui tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui wayang beber ini. Dengan melakukan penelitian mereka bisa mengenalkan kembali eksistensi wayang beber di Indonesia.

“Wayang ini unik, harus dilukis dulu di atas kertas lebar. Berbeda dengan wayang pada umumnya yang pernah saya saksikan di Indonesia,” ujar Marina.

Saat ini Tea dan Marina melakukan penelitian di berbagai daerah. Antara lain di Pacitan, Jawa Timur; Solo, Jawa Tengah; dan Gunungkidul, DIJ. Untuk memudahkan akses perjalan menuju lokasi tersebut, mereka menetap di sebuah desa di daerah Tembi, Bantul.

Biasanya mereka hanya menggunakan transportasi umum untuk menuju daerah-daerah tersebut. Hanya, berada di Jogjakarta saja mereka menggunakan motor sewaan untuk aktivitas mereka sehari-hari.

Ditanya mengenai kendala yang mereka hadapi soal bahasa. Ya, mereka kesulitan untuk mengerti Bahasa Indonesia. Sampai saat ini mereka dibantu seorang teman yang bisa menjadi penerjemah mereka dalam proses pengumpulan data dan informasi tentang wayang beber. Namun, karena teman tersebut tidak dapat mendampingi Tea dan Marina setiap waktu. Akhirnya, mereka belajar sedikit Bahasa Indonesia dan Jawa untuk komunikasi dengan narasumber mereka.

Dalam waktu tiga bulan ke depan Tea dan Marina akan menyelesaikan penelitiannya dan kembali ke Kroasia untuk mempresentasikan di beberapa museum di Zagreb, salah satunya di Ethnographic Museum Zagreb. Di museum tersebut mereka juga akan menggelar pameran hasil penelitian mereka. Segala detail dari bagian wayang beber sudah mereka siapkan.

Mengenai harapan setelah melakukan penelitian, Tea dan Marina ingin hasil penelitian mereka tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia dan Jawa. Tujuannya agar banyak masyarakat belajar tentang wayang beber dan dapat ikut melestarikan warisan kesenian tersebut. (ila/ong)