BANTUL – Pelan tapi pasti, satu persatu kelompok kesenian tradisional di Bantul mulai bangkit. Itu terlihat kian beragamnya jenis kesenian tradisional yang ditunjukkan dalam pembukaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Bumi Projotamansari kemarin (1/9).

Kirab budaya yang menjadi pembukaan FKY tak lagi didominasi kesenian tradisional mainstream. Seperti jathilan, reog, maupun tari-tarian. Seniman tek-tek, gejok lesung, hingga hadroh mulai menunjukkan eksistensi.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lies Ratriana mengakui tren positif kesenian tradisional ini. Menurutnya, kekayaan kesenian tradisional di Bantul jauh lebih berwarna. “Jumlah kelompok kesenian tradisional yang terdaftar juga terus bertambah,” jelas Lies di sela pembukaan FKY kemarin.

Menurut Lies, ada 1.996 kelompok kesenian tradisional yang terdaftar di Disbudpar. Jumlah ini diperkirakan bakal terus bertambah. Mengingat, ada dukungan pemerintah melalui dana keistimewaan (danais).

Lies mengapresiasi tren positif ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih hidup di tengah masyarakat. Meskipun ada gempuran berbagai budaya asing. “Semoga tahun depan yang terdaftar lebih banyak,” ucapnya.

Lies menambahkan, pembukaan FKY dipusatkan di kompleks perkantoran pemkab di Manding. Ada 34 kelompok kesenian tradisional yang ambil bagian dalam kirab budaya ini. Mereka dari 17 kecamatan se-Bantul.

FKY difokuskan di tiga titik. Yakni, Kecamatan Dlingo (2- 3 September). Lalu, di Kecamatan Jetis (4- 5 September).
”Di Bantul bagian barat di Sedayu pada 6- 7 September,” ungkapnya.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, FKY merupakan momentum bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri. Menunjukkan kesenian khas tradisional kepada masyarakat luas. “Sekaligus momentum merawat nilai-nilai budaya,” ungkapnya.

Halim mengingatkan majunya sebuah bangsa salah satunya ditentukan perilaku masyarakatnya, yang mampu menghargai nilai-nilai kebudayaannya sendiri.(zam/yog/ong)