MAGELANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Magelang akhirnya menahan Rudy Siswanto, terduga koruptor anggaran pembelian bahan bakar minyak (BBM) di UPT Tempat Penampungan Sampah Akhir (TPSA), Dinas Kebersihan Pertamanan dan Tata Kota (DKPTK) kemarin (1/9).

Rudy disangka menyelewengkan dana pembelian BBM selama 2013-2015 sebesar Rp 106 juta. BBM tersebut seharusnya digunakan untuk operasional alat berat di TPSA Banyuurip, Tegalrejo, Magelang. Selama menjabat kepala UPT, Rudy ditengarai menggunakan anggaran tersebut tak sesuai peruntukannya. Sebagian BBM dijual ke pihak lain melalui Sirojul Munir, salah seorang sopir pengangkut sampah.

Kasi Pidsus Kejari Kota Magelang Sigit Santoso SH mengatakan, penahanan tersangka setelah lembaganya menerima pelimpahan berkas perkara penyidikan dari Polres Magelang Kota. Berkas telah dinyatakan lengkap. Atau P21. Selain melimpahkan berkas dan tersangka, penyidik juga menyerahkan barang bukti berupa surat-surat dan uang tunai Rp 3 juta. Usai menjalani pemeriksaan di kantor kejari setempat, tersangka lantas digelandang ke Lapas Kelas II A Kota Magelang. Rudy akan menjalani penahanan tahap pertama selama 20 hari.

“Berkas perkara akan kami limpahkan ke pengadilan tipikor sesegera mungkin,” ujarnya.

Tersangka dijerat pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Hadir menjalani pemeriksaan, Rudy yang mengenakan pakaian warna gelap didampingi pengacaranya, Feri P. Kurniawan, dari Kantor Advokad M. Zazin & Asociates. Sesekali dia menyunggingkan senyum kepada siapa saja yang menyapa.

Feri menyatakan telah mengajukan penangguhan penahanan atas kliennya. Dia menggaransi, Rudy akan selalu bersikap kooperatif selama menjalani pemeriksaan, baik di kejaksaan maupun persidangan. “Kami jamin tidak aka nada upaya penghilangan barang bukti atau melarikan diri. Kami juga ajukan diri sebagai jaminannya,” ujar Feri.

Sebagaimana diketahui, kasus tersebut bermula ketika Rudy menjabat kepala UPT TPAS Banyuurip pada 2013-2015. Anggaran pembelian BBM diwujudkan dalam bentuk kupon. Semua kupon dipakai. Tapi, dalam praktiknya masih ada sisa BBM yang kemudian dijual oleh Sirojul Munir. Dari penjualan tersebut, Sirojul mendapat hasil Rp 12 juta. Feri mengklaim, kliennya tak memiliki niat memperkaya diri sendiri melalui praktik penjualan sisa BBM yang diduga mencapai Rp 48 juta.

Menurut Feri, uang tersebut tak dikembalikan ke kas daerah karena digunakan untuk membuat pagar dan mengeraskan jalan area TPA. “Mereka beranggapan, uang yang telah diprogramkan harus dipakai habis. Ini sesuai pernyataan Sirojul dalam persidangan,” paparnya.

Sirojul telah divonis bersalah oleh hakim. Dia dihukum 18 bulan penjara. (ady/yog/ong)