Diskusi Forum Selapanan Malam Jumat Kliwon “Sawang Sinawang”

Aksara Jawa harus tetap dilestarikan. Mirisnya sebagian orang Jawa yang tak mengerti aksara ini. Berangkat dari situ, sejumlah mural dengan aksara Jawa dibuat. Tujuannya menggelitik minat warga untuk kembali mempelajari hanacaraka.
VITA WAHYU HARYANTI, Jogja
FORUM Selapanan Malem Jumat Kliwon “Sawang Sinawang” yang diadakan Kamis malam (1/9) begitu syahdu. Acara rutin yang diadakan di Mblelinger Coday malam itu mengangkat tema yang cukup berat namun penting. Ya, diskusi malam itu mengambil tema Nresnani Aksara Jawa.

Diskusi malam itu menghadirkan Arief Nurcahyo, 50, dari Adhisakti Center yang fokus pada kajian tentang Kejogjakartaan, sebagai pembicara
Tema ini diangkat karena adanya rasa gundah dan gelisah yang dirasakan oleh komunitas terhadap surutnya pemahaman tentang aksara Jawa di masyakarat.

Menurut Arief, banyak yang memberikan reaksi aneh ketika dia menanyakan pada seseorang tentang aksara Jawa. Banyak yang mengatakan tidak bisa membaca atau menulisnya. Mereka mengang-gap bukan sebuah keharusan untuk belajar aksara Jawa.

“Alasannya, mereka tidak me-makai aksara Jawa untuk komu-nikasi maupun tulisan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Arief.

Arief mengatakan, aksara Jawa adalah sebuah simbol atau lambang peninggalan nenek moyang yang harus tetap diles-tarikan. Mirisnya orang Jawa sendiri sudah melupakan apa yang menjadi warisan tersebut.

“Banyak aset dan data-data di luar negeri tentang aksara Jawa yang lebih lengkap dibanding yang diketahui saat ini,” ungkap pakar psikologi tersebut.

Berkaca pada negara tetangga seperti Thailand dan Tiongkok yang sampai saat ini masih meng-gunakan aksara atau alphabet nenek moyang untuk dijadikan bahasa sehari-hari. Harapannya, masyarakat Jawa juga melakukan hal itu.

Namun, kondisinya ber-beda dengan masyarakat saat ini. Di Jogja misalnya, banyak warganya yang tidak mengerti tulisan Jawa.

Arief dan kawan-kawannya lantas bertindak. Mereka memilih untuk mengenalkan kem-bali aksara Jawa yang menurutnya adalah sebuah kesakralan dalam bentuk mural di beberapa lokasi wisata. Seperti di sekitaran Jalan Malioboro. Tak hanya di ruang publik, sejumlah lubang-lubang jalan juga mereka cat dengan huruf aksara Jawa.

“Sekaligus sebagai aksi nyata untuk mengingatkan pemerintah. Bahwa itu adalah pekerjaan rumah (PR) pemerin-tah untuk segera memperbaiki jalan umum yang rusak,” jelas Arief.

Cara yang dilakukannya ter-sebut dirasa menjadi lebih mu-dah dibandingkan harus menga-jarkannya di dalam kelas mau-pun secara individu. Sebab, masyarakat yang melewati lo-kasi itu akan lebih ngeh dan akhirnya penasaran. Nah, dari rasa penasaran ini harapannya dapat diwujudkan dengan men-cari tahu dan mempelajarinya.

Harapan Arief bersama kawan-kawannya, semoga pemerintah daerah dapat melihat apa yang sedang mereka bangun untuk melestarikan aksara Jawa.

Dengan tindakan mulai memberikan fasilitas di sekolah maupun hal lain yang dapat mendukung sosialisasi. “Karena sudah menjadi ke-biasaan, warga harus disenggol dulu untuk diajak mulai mela-kukan hal-hal baik,” candanya.

Arief mengungkapkan, saat ini ada juga beberapa aplikasi on-line yang memuat aksara Jawa. Namun, aplikasi ini hanya bisa mengajarkan aksara Jawa se-cara visual, bukan secara moto-rik. “Bagus, tapi senggolan- senggolan langsung untuk mem-pelajari aksara Jawa juga penting,” ungkapnya. (ila/ong)