Selai dan Sirup Organik, Manfaatkan Rosella dan Rempah

Tidak dapat dipungkiri kebanyakan selai dan sirup yang dijual di pasaran pasti mengandung bahan pengawet. Bagi mereka yang mencari produk yang bebas pengawet terkadang kesulitan mencarinya. Nah, peluang ini ditangkap oleh Retno Wulandari, 43, yang memanfaatkan hasil kebunnya sebagai bahan selai dan sirup organiknya.
VITA WAHYU HARYANTI, Sleman
MEMANFAATKAN apa yang dia tanam di kebun belakang rumah-nya, Retno mulai belajar secara otodidak dalam meramu selai dan sirup. Saat ditemui di rumahnya di Jalan Godean Km.8,5 Sidokarto, Sleman, Retno menceritakan awal-nya dia hanya ingin membuat selai dan sirup organik tanpa bahan pengawet untuk dikonsumsi sen-diri. Namun, banyak permintaan dari teman-teman dan beberapa komunitas untuk memproduksi-nya lebih banyak
“Dari dulu memang sudah me-nerapkan hidup sehat lalu kepi-kiran bikin selai dan sirup orga-nik,” jelasnya belum lama ini.

Retno sudah berhasil memproduksi 14 jenis sirup rempah dan delapan jenis selai. Selain itu, dia juga memproduksi teh tisan, bir mataram, dan madu fermentasi. Kebanyakan bahan dasar yang dia pakai adalah bunga rosella dan rempah-rempah khas Jawa. Produk yang dia beri nama Kebun Kita kini tidak pernah sepi pembeli.

Ibu lulusan S2 Seni Rupa ISI Jogja ini mengatakan, produk hasil kebunnya tersebut juga dikonsumsi oleh anak-anak berkebutuhan khusus atau down syndrome yang notabene tidak diperbolehkan makan atau minum yang mengandung bahan pengawet.

Untuk memproduksi selai dan sirup, Retno menggunakan gula batu dan nira kelapa. Nira kelapa atau coconut nectar tersebut juga dibuat khusus untuk penderita diabetes dan anak berkebutuhan khusus.Retno mengaku bahan-bahan yang digunakan harus berkuali-tas premium.

“Karena me ngusung konsep organik jadi harus benar-benar baik untuk dikonsumsi, tidak sembarangan pilih bahan,” ungkap seniman lukis dan patung yang sering malang melintang lintas negara ini.

Produk dari Kebun Kita tersebut sudah mendapatkan apresiasi dari pemerintah, terlebih kesempatan untuk mewakili expo di luar negeri.

“Ini salah satu kebanggaan tersendiri, di-undang khusus ke beberapa event yang mengenalkan kekayaan Indonesia lewat hasil produk yang saya buat,” ujar ibu dua anak tersebut.

Ditanya soal suka dukanya menjalani bisnis ini, dia mengatakan, tidak pernah mera-sakan dukanya. Karena Retno sendiri sangat senang dengan aktivitas berkebun dan pengolahan hasil kebunnya. Di tengah kesibukannya sebagai seniman, Retno masih turun langsung dalam proses produksinya.

Mengenai harapannya, Retno ingin membuat kafe yang hanya menyediakan hasil olahan organik miliknya di belakang rumah. Saat ini rumahnya selalu terbuka lebar untuk komunitas atau instansi pendidikan yang ingin belajar mengenai selai dan sirup organik. (ila/ong)