BANTUL – Praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur ibarat gunung es. Tempat hiburan malam di berbagai wilayah di DIJ diduga banyak yang mempekerjakan anak yang mayoritas telah putus sekolah.

Tidak hanya tempat hiburan karaoke di kawasan Pantai Parangkusumo, Bantul saja. Namun disinyalir juga terjadi di Jogja dan Sleman.

Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo mengungkapkan, penggerebekan tempat hiburan karaoke di kawasan Pantai Parangkusumo Jumat (2/9) lalu menyimpan fakta menarik.

We dan Eh, kedua ABG berusia 17 tahun yang dipekerjakan sebagai pemandu karaoke ini sebelumnya telah malang melintang di dunia hiburan malam. Berpindah dari tempat hiburan satu ke tempat hiburan lainnya.

“Mereka sebelumnya pernah di Sleman dan Kota Jogja,” jelas Anggaito usai gelar perkara kasus prostitusi anak, kemarin (5/9).

Anggaito meyakini masih ada beberapa tempat hiburan karaoke di kawasan Pantai Parangkusumo yang mempekerjakan anak di bawah umur. Karena itu, pihaknya tetap intensif mela-kukan penyelidikan. Agar prak-tik serupa benar-benar hilang dari kawasan pantai selatan.

“Tapi, ini juga butuh kerja sama dari masyarakat,” ucapnya.

Terkait Em, pemilik tempat hiburan karaoke, bekas Kasat Resnarkoba Polres Sleman ini membeberkan, statusnya kemarin dinaikkan menjadi tersangka. Dari hasil gelar perkara menunjukkan bahwa perempuan asal Kretek, Bantul tersebut melangggar dua undang-undang sekaligus. Yakni, Undang-undang No. 21/2007 tentang Pemberan-tasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Undang-undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Kendati begitu, Em tidak sendirian. Rekan bisnis Em berinisial K juga ditetapkan sebagai tersangka.

“Mereka joinan bikin karaoke itu,” ungkapnya.

Adapun We dan Eh dititipkan di Dinas Sosial DIJ. Anggaito tak menampik banyak mendapatkan informasi terkait ABG asal Wonosobo dan Magelang, Jawa Tengah tersebut.

Selain bekerja sebagai pemandu karaoke, keduanya juga melayani pria hidung belang. Tarifnya sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta untuk sekali kencan. Hanya, kepolisian kesulitan membuktikannya.

“Sebagai pemandu karaoke dia dapat Rp 50 ribu dari bosnya,” jelasnya.

Pada bagian lain, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul Susanto mengungkapkan, kasus mempekerjakan anak di bawah umur menjadi perhatian serius.

Sebab, dari tahun ke tahun jumlah pe-kerja anak di Kabupaten Bantul cukup banyak. Pada 2016 saja ada 63 anak yang ditarik untuk dikem-balikan ke sekolah. “Pada 2015 ada 150 anak,” jelas Susanto.

Meski jumlahnya cukup jamak, Susanto memastikan tidak ada satu pun anak ini yang bekerja di perusahaan besar. Semua bekerja di industri rumahan. Dari pantauan disnakertrans, anak-anak ini yang memaksa untuk bekerja.

Memenuhi ke-butuhan sehari-hari sebagai alasannya. Karena itu pula, Disna-kertrans Bantul tak jarang me-ngalami kesulitan menarik mi-nat mereka untuk kembali ke sekolah. (zam/ila/ong)