PRAKTIK prostitusi di tempat-tempat hiburan masih jadi sorotan Dinas Sosial (Dinsos) DIJ. Apalagi ada indikasi dipekerjakannya anak di bawah umur. Penyuluhan dan pemberdayaan jadi langkah antisipasi yang ditempuh dalam memberan-tas praktik tersebut.

Kepala Dinsos DIJ Untung Sukaryadi mengatakan, praktik prostitusi yang melibatkan anak di bawah umur masih jadi persoalan di berbagai daerah, tak terkecuali di DIJ
Hanya, apakah itu terekspos atau tidak. “Kalau yang di Bantul itu benar terjadi, sangat memprihatinkan,” ujarnya kepada Radar Jogja, kemarin (5/9).

Dikatakan, penyuluhan dan pemberdayaan yang bersifat makro dan mikro terus dilakukan secara berkala dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Dari skala makro berupa penyuluhan salah satunya memberikan nilai-nilai pembedayaan, sementara yang dalam skala mikro misalnya dengan membuat kegiatan yang produktif.

Menurutnya, memang kon-disinya di lapangan tidak semua praktik yang terjadi berlatar belakang karena kelaparan atau faktor ekonomi. Tuntutan ke-butuhan modernisasi masih jadi faktor utama anak di bawah umur melakoni praktik itu.

“Tuntutan kebutuhan modern yang terkadang orang umum tidak butuhkan, tetapi bagi me-reka membutuhkan,” ujarnya.

Di ranah rehabilitasi, dinsos memiliki beberapa panti sosial yang digunakan sebagai wadah penyuluhan dan pemberdayaan. Untuk kasus-kasus seperti prosti-tusi anak di bawah umur, pihaknya memiliki Panti Sosial Karya Wanita (SKW).

“SKW menjadi wadah untuk mendidikan anak-anak yang masih remaja yang tidak memi-liki keterampilan dan putus sekolah,” ungkapnya.

Untung menjelaskan, SKW sifatnya buka tutup. Mereka yang masuk akan mendapat program penyuluhan dan pemberdayaan, setelah lulus beberapa bulan keluar. Jika ada rujukan pemerin-tah setempat, RT atau RW, mau-pun penyerahan dari orang tua, tidak ada batasan waktunya.

“Tapi ada prosesnya, misalnya kerelaan orang tua atau ada rujukan dari pemerintah setem-pat, seperti RT atau RW. Jadi kami tidak bisa semena-mena memasukkan orang ke panti sosial,” ujarnya. (dya/ila/ong)